Bila senja telah datang ku berpikir, bagaimana caranya…?
Bila malam gelap menutup pandang, kubertanya, mengapa??
Saat pagi menghampir tiba aku masih terpaku diam seolah aku tak tidur memkirkannya
Bagaimana ini terjadi???
Di sebuah lorong yang terang penuh cahaya aku berjalan mundur
Masih kupertanyakan bagaimana ini terjadi
Mengapa aku tak maju saja itu tak kupersoalkan
Aku hanya berpikir bagaimana ini terjadi
Di kelanjutan hari, aku masih di lorong itu
Sempit tapi penuh cahaya terang yang amat menyilaukan
Kusipit-sipitkan mata
Berusaha memandang
Aku masih mundur jauh ke belakang
Tapi aneh,
Semakin mundur aku, cahaya semakin redup dan aku bisa melihat sekarang
Saat aku coba untuk maju cahaya kembali menyilaukan dan begitu stabil di titik tertentu
Aku tahu sekarang, cahaya di tengah lorong amat menyilaukan
Semakin aku mundur semakin redup dan gelap
Namun, semakin aku maju cahaya silau semakin hilang
Hanya terang yang menyamankan penglihatan
Dadaku pun terbuka sedikit
Tapi aku masih tak mengerti
Mengapa semuanya bisa terjadi??
Bagaimana terjadinya??

Ditulis oleh sambalgorengkentang
Wajah-wajah di balik bukit sana terlihat silau. Membawa nampan-nampan berisi beras kebahagiaan, ember berisi lapang hati dan toples-toples kecil berisi senyuman yang boleh diambil siapapun dan kapanpun tanpa harus menunggu dihidangkan saat lebaran. Orang-orang berkata bahwa itu tidaklah mungkin, karena disana tidak pernah ada bukit. Kata orang, disana hanya ada sebuah kuburan kecil yang tak terawat dan nampak menakutkan. Tapi percayalah padaku bahwa disana memang ada seperti itu, yakinlah! Hehehe… mengapa aku mesti berbohong, kalau tidak percaya coba kalian kesana. Tapi jangan pernah ajak aku karena aku sudah pernah melihatnya, dan bagiku itu sudah sangat mengesankan, aku tak mau kesana lagi. Kemarin seorang temanku mencoba mengajakku ke tempat itu, tapi aku tidak mau dan ternyata dia pergi ke tempat itu sendirian. Malam harinya dia berkata padaku bahwa dia tidak melihat apapun disana. Lalu kutanyakan apakah dia menaiki sebuah bukit. Dia menjawab tidak, karena tak ada bukit. Lalu kutanya dia pergi ke arah mana. Dia menuju ke arah barat. Salah, seharusnya dia tidak pergi ke arah barat, timur, selatan, utara, tenggara atau arah manapun, tapi suatu tempat yang sampai sekarang arahnya belum pernah diketahui. Aku pun tak tahu tepatnya dimana. Tempat itu adalah dimana telunjuk tak bisa menunjuk. Kalau kalian menunjuk berarti itu menuju ke arah tertentu, tapi ini tidak! Tidak tertunjuk. Pokoknya tempatnya asyik, temanku bertambah banyak, dan setelah dari sana tubuhku selalu terasa segar, tapi ada satu hal yang tak pernah kupahami, setelah pulang dari sana aku ingin sekali cepat mati, ya…. cepat mati. Ya Rabb aku ingin mati… Namun, itu tidak mungkin.
