Internet Memperlancar Pekerjaanku Meski di Tengah Perkebunan Sawit

November 26, 2011

Aku adalah seorang karyawan perusahaan yang bergerak di bidang peternakan. Salah satu bidang usaha yang digeluti adalah Parent Stock Breeding Farm. Seperti diketahui, Breeding Farm biasanya terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dengan sistem biosecurity yang ketat. Seperti Farm tempat aku bekerja yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit. Maklum, ayam-ayam itu sangat sensitif terhadap penyakit macam Flu Burung yang tidak juga reda kasusnya.

Waktu itu bulan Juli 2010, ketika aku mulai ditugaskan di Breeding Farm yang terletak di perbatasan Kab. Bogor (Jabar) dengan Kab. Lebak (Banten). Sungguh kaget ketika melihat lokasi Farm yang besar di tengah-tengah kesunyian kebun sawit milik BUMN. Setiap karyawan tidak bisa keluar masuk Farm sembarangan. Akses untuk ke minimarket terdekat pun berkilo-kilo jauhnya dengan jalan berbatu. Bahkan sempat terlintas pertanyaan apakah benar disini ada sinyal ponsel? Huffh, Bak terjebak di lorong gelap.

Pada hari pertama bekerja aku langsung tahu kesulitan yang dialami Farm. Atasanku pusing dengan data-data dan administrasi yang selalu dikirim lewat Flashdisk, padahal jarak ke kantor pusat lebih dari 100 km. Sangat tidak efisien. Sontak aku teringat dengan benda ajaib. Ya, MODEM! Dengan sedikit ragu aku mencoba mencolokkan modem ke PC, dan Wow, luar biasa!!! Aku tak menyangka ada koneksi internet meski hanya GPRS. Satu demi satu data aku kirimkan via email. Masalahpun terpecahkan.

Pada saat itu orang-orang di Farm memang tidak terlalu familiar dengan koneksi internet nirkabel. Hingga setelah kejadian itu aku mengusulkan agar kantor menyediakan modem untuk kepentingan pekerjaan di Farm. Atasanku pun mulai menggunakan modem untuk aktivitas cyber-nya. Aku berusaha menanamkan pentingnya internet kepada karyawan yang sebagian besar orang pedesaan. Pekerjaan di Farm jadi lebih mudah dan efisien. Internet menjadi hiburan yang sangat mengasyikkan di Farm yang sangat jauh dari hiruk pikuk keramaian. Informasi tetap terupdate dan yang pasti wawasan karyawan makin luas.

Setelah setahun lebih, koneksi internet di Farm telah semakin baik. Internet menjadi familiar di tengah-tengah perkebunan sawit. Kini, aku telah dimutasi di Kantor Pusat. Sungguh bahagia berbagi ilmu dengan temen-teman di Farm. Internet benar-benar membuatku XLANGKAH LEBIH MAJU!

Bravo Internet..!!!

Iklan

My Rendezvous (Part 3)

Februari 26, 2009

Setelah pemandangan di Gejayan aku sudah tak ingat lagi berapa kali aku menyaksikan kejadian serupa. Aku juga sudah tak ingat lagi bagaimana wajah Sisri sekarang, karena ia tak pernah lagi menjemputku di Jombor ataupun Janti. Meskipun baru setahun aku tak bersua, tapi sepertinya aku baru bertemu dengan muka tirus pekerja keras itu kemarin sore. Sisri adalah contoh jiwa masa kini yang perlu ditiru generasi muda. Pantang menyerah dan selalu ceria menghadapi setiap masalah. Tak seperti diriku yang selalu banyak keluh dan kesah, seolah-olah baru saja tertimpa gunung yang menghimpit, sesak lalu terkubur bersamanya. Mungkin aku terlalu meremehkan setiap masalah yang datang. Tapi setidaknya dengan sedikit meremehkan aku bisa bersantai dan tak memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Atau mungkin aku terlalu menganggap berat sebuah masalah, sampai-sampai aku mengira hanya Moldy-lah yang punya teknik gitar seperti itu. Sungguh mengejutkan saat aku melihat pengamen di bus Jogja-Solo yang memiliki teknik bermain gitar persis seperti Moldy. Hidup ini memang penuh kejutan. Masalah berat akan selalu datang, seperti belajar gitar gaya Moldy, namun akan selalu terselesaikan bila kita berniat. Pun hidup ini ringan namun masalah-masalah akan semakin runyam saat kita tak berfikir untuk mempersiapkan. Agaknya setiap rendezvous-ku memang telah dipersiapkan untuk itu.

Seperti sore di awal Februari yang dingin dan mendung. Aku bertemu dengan kawanku semasa SMA, Muara, di sebuah kampus kebanggaan warga kota Solo. Setelah sekian lama tak tahu kabar, kami mencoba luangkan waktu untuk sedikit berkontemplasi tentang masa-masa puber kami. Muara, kawanku itu seperti seorang superstar saat SMA. Cerdas, dengan potongan yang gaul dan disukai kawan-kawan. Kehidupanku bersamanya saat SMA tak bisa dibilang seperti gay karena kami berdua memang masih normal. Disamping kami tidak selalu ketemu, kami juga memiliki aktivitas yang berbeda. Aku adalah seorang aktivis sekolah yang kurang kerjaan sedangkan kawanku, Muara, adalah seseorang dengan kehidupan yang lebih asyik, hidup yang penuh gondrink dan mainan. Sesuatu yang saat itu ingin sekali kulakukan namun aku tak mampu. Hingga kini aku tak pernah melakukannya karena menurut Muara, yang kulakukan sekarang berbeda dengan mainan saat SMA, kini ini disebut dengan tenanan. Kalau gondrink, sumpah aku takkan melakukannya seumur hidupku!!

Ketika itu aku memang sudah berfikir bahwa Muara memang seorang yang penuh bakat, namun aku tak pernah tahu apa yang ia rencanakan di masa depan. Hingga pada suatu saat kutemukan dia dalam aktivitas yang luar biasa baik daripada sekedar mainan dan gondrink. Meskipun ia juga sama sepertiku, tenanan dan ia hanya tinggal menunggu hitungan bulan untuk membuatnya lebih tenanan lagi. Memang benar, Tuhan akan sesuai kehendakNya untuk membalikkan sebuah keadaan, dari A menjadi B dan seterusnya tanpa kita pikirkan sebelumnya.

Aku terlalu banyak kehilangan kontak dengan sahabat-sahabatku semasa SMA. Kurasa Muara adalah salah seorang sahabat yang masih berkontak denganku sejak lulus SMA hingga sekarang. Aku benar-benar merasakan bahwa seseorang akan selalu butuh sahabat untuk menjalani hidup, tak bisa tidak. Dan Muara adalah sahabat yang sampai saat ini sangat berarti dalam menjalani setiap perjalanan. Pertemuanku dengan Muara sore itu dijemput oleh suasana malam kota Hadiningrat yang mendung dan menenangkan. Slamet Riyadi yang metropolis, Loji Wetan yang mengingatkanku pada Ayam Goreng Mbak Yeyen nan lezat dan Kerten yang sangat indah. Kerten memang indah saat aku datang dari Semarang, namun Kerten seperti sangat muram saat aku akan meninggalkannya. Menurutku Solo dan Kerten tak pantas untuk ditinggalkan. Sungguh saat-saat yang paling menyedihkan buatku saat harus meninggalkan Kerten menuju Semarang. Makanya aku selalu memilih untuk lewat Karanggede yang lengang dan segar saat kembali dari rumahku di Sragen ke Semarang karena tak tega. Perjalanan kami berlanjut menuju Mie Ayam Pocong di Makamhaji, tapi sayang kekecewaan merayap saat kami tahu bahwa Mie Ayam Pocong sudah tutup. Akhirnya suara perut kami menuntun ke Sate Ponorogo di Pasar Legi yang cukup ramai. Hidup ini banyak pilihan, seperti saat memilih warung makan.

Tujuan hidup kita belum tentu tercapai sesuai target. Mie Ayam Pocong yang tutup telah membuktikannya. Mungkin kita akan mendatanginya lain kali. Tetapi sesuatu yang mendesak takkan butuh menunggu, ia butuh alternatif jika tujuan utama tak terpenuhi. Di tempat berbeda, namun sama-sama memenuhi hakikat tujuan, itu sama saja menurutku. Walaupun secara taste berbeda, namun tetap tercapai tujuannya. Hidup akan senantiasa begitu, dan kita memang harus mulai berfikir untuk mempersiapkannya. Hmmm, tapi Sate Ponorogo memang cukup lezat, karena setelah makan sate ayam bersama sepiring nasi kami masih memesan lagi sepiring lontong untuk memenuhi perut kami yang berunjuk rasa.

Selepas dari Pasar Legi, Muara mengajakku sebuah kafe yang etnik di Mendungan, Kartasura. Kafe itu terletak di jalan yang menuju ke SMA Mendungan. Perabotannya kental dengan nuansa tradisional dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan pencahayaan yang tak terlalu terang, tapi cukup ayem bila kita mengunjunginya di malam hari yang dingin. Malam itu cuaca di Mendungan memang dingin, meskipun begitu suasana menjadi hangat dengan banyaknya pengunjung kafe yang menyeruput kopi sambil menonton Indonesia Super League antara Persik Kediri vs Sriwijaya FC Palembang. Pertandingan malam itu menarik karena Budi Sudarsono, striker Timnas, yang saat paruh pertama membela Persik kini harus memakai kostum Sriwijaya untuk melawan tim yang telah membesarkan namanya. Ya, Budi dijual ke Palembang karena Persik mengalami krisis keuangan. Kurasa Budi sebagai pemain profesional takkan terpengaruh dengan status barunya itu. Lalu aku sempat berfikir bahwa sesuatu memang akan cepat sekali berubah, beberapa jam lalu mungkin kita sambil berapi-api membela satu hal, tapi sangat mungkin beberapa jam setelahnya kita menjadi berseberangan. Sepertinya Tan Malaka benar bahwa hidup ini selalu berubah, yang ada hanyalah perubahan tentang kepastian atau kepastian tentang perubahan, rumit memang.

Aku segera memesan secangkir capuccino hangat yang cepat-cepat kuhirup. Aku berfikir dengan sepiring French Fries mungkin akan semakin mengasyikkan, dan kami memang segera larut dalam obrolan panjang tentang apa yang sudah kami lakukan selama ini dengan mulut seperti Selepan yang berbunyi ”gruuuuuungngngng!!!”. Namun ada satu hal berbeda dari Muara yang kukenal dulu, ia berfikir lebih dewasa dan bijak. Sesuatu yang hampir mustahil bila kuingat tingkahnya semasa SMA. Yah, mungkin karena dia memang aktivis kampus atau kegemarannya nge-blog jadi membuat fikirannya lebih dewasa. Dalam serunya obrolan kami, aku tersentak karena tiba-tiba ia bertanya tentang sesuatu yang asing bagiku,

”An, menurutmu menikah itu perlu cinta atau tidak?”

Aku pun tepekur untuk beberapa detik. ”Hmmm, mungkin banyak orang berpendapat Ra. Terkadang orang berfikir takkan menikah dengan yang tak dicintainya, tapi sebagian orang jaman sekarang memastikan bahwa cinta akan datang belakangan setelah ijab-kabul terlaksana”, jawabku.

Lalu kamu tipe yang seperti apa Ra?”

Kalau kulihat gelagatmu, kau takkan bisa menahan cinta baru datang belakangan Ra, hahaha. Engkau pastinya butuh cinta dulu, ya kan?”, cecarku penuh penasaran.

Yaaa……, mungkin sih. Cinta itu menyembuhkan An, bahkan orang yang tidak sakit akan sembuh kalau sudah kena cinta”, akunya.

Seumuranku ini sudah tak ada lagi mainan, bisa dibilang tenanan gitu lah, karena kita memang harus memikirkan masa depan dari sekarang. Alaah, kamu itu seperti tak punya cinta saja, padahal kamu itu king of gombal! Diam-diam gombalmu itu membungkus banyak wanita, hahahaha”, lanjutnya.

Gundulmu kuwi Ra! Yang gombal itu aku apa kamu? Weleh-weleh, coba saja renungkan omonganmu itu, mana ada orang tidak sakit bisa sembuh, wong edan atau romantis kamu? Sepertinya sudah tak ada batas lagi antara romantis dan gila ckckckck”, ujarku.

(Bersambung…)


My Rendezvous (Part 2)

Februari 24, 2009

Perjalananku tak pernah berakhir. Seperti saat aku berangkat dari Semarang, kota yang takkan pernah padam menurutku. Tata kota sentuhan Belanda dengan tekstur tanah yang aneh. Pikirku, Semarang memang kota unik. Dengan berbagai budaya yang serba bercampur memunculkan aroma Semarangan yang nyeleneh. Bila Solo dan Jogja punya Kraton sebagai simbol eksistensi budaya Jawa, Semarang tak pernah punya, hanya semacam kota pelabuhan penuh pendatang sepertiku yang amat panas terik dengan hiasan Sam Poo Kong dan Lawang Sewu nan eksotis. Sore itu adalah di awal bulan Mei, jasadku masih berada di hiruk pikuknya Sukun ditemani benda-benda kotak besar berisi manusia yang sangat mengganggu, derum kencangnya hampir merusak telinga dan sisa napasnya yang hitam diprotes di seluruh dunia karena selain mengganggu kesehatan juga ikut andil dalam Global Warming. Tapi, justru benda itulah satu-satunya yang dapat membawaku sampai ke tujuanku, Jogjakarta. Waktu kecil, aku menyebutnya dengan Kota Mainan Baru, karena disanalah aku mendapatkan banyak sekali mainan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Di kota inilah aku tahu tentang Winning Eleven, saat teman-temanku di Kalioso masih bermain Plinthengan, disana aku tahu tentang Prehistoric yang lucu dan robot Gundam saat teman-temanku di Pojoksari masih memanjat pohon untuk mengambil susoh manuk. Pun aku tahu tentang cinta monyet saat Ninuk, teman SDku kelas 5 meminjamiku Tamagochi kadal, hingga hal tersebut menjadi gosip seantero kelas. Aku pun bersyukur karena saat itu belum ada Kiss, i-Gosip atau Insert dan acara-acara gosip lainnya.

Jogja, meskipun begitu dekat jaraknya dari Semarang, tetap membuatku merasa kejauhan saat dalam kepenatan, penat yang seharusnya akan terbayar lunas saat aku sampai disana. Keinginan untuk cepat sampai sudah tak tertahan bersama dengan keharusan untuk menunggu yang membuat keringat dingin bercucuran. Kotak-kotak besar beroda mulai berjajar di depanku, tapi yang kucari belum juga datang. Memang ada sebuah yang cukup mewah dan sepertinya ada pendinginnya, tapi aku tak berani memasukinya, karena bisa-bisa aku kedinginan. Bukan badanku melainkan kantongku. Ya, kantongku tak cukup tebal untuk menahan dinginnya AC. Lebih baik kepanasan asalkan masih ada yang bisa dirogoh dalam kantong. Tak lama kemudian datanglah sebuah kotak besar yang agak kotor dengan kaca jendela yang sudah kusam, sedangkan kaca di depan pengemudi sudah retak seperti sambaran petir. Dengan agak tergesa aku segera berlari berharap masih ada kursi yang bisa mengenyahkan sekejap kepenatanku. Tapi harapanku tak terwujud. Bus begitu sesak dipenuhi orang-orang yang baru pulang bekerja. Hari sudah sore, takkan ada gunanya aku menunggu bus yang kosong. Pada waktu-waktu seperti ini bus akan selalu penuh hingga menjelang isya nanti. Biarlah aku berdiri bercampur peluh para buruh. Perjalananku pun dimulailah, kubayangkan aku akan menikmati sejuknya jalan di Jambu dan Magelang ditemani tetesan peluh buruh pabrik tekstil Ungaran yang naik di sekitar Bergas. Obrolan mereka tak pernah jauh dari mahalnya harga barang-barang, sulitnya hidup di zaman sekarang dan tentang kesulitan hidup yang lain. Obrolan berlanjut hingga kebanyakan mereka turun di sekitar Secang, sedangkan aroma kain masih terbau lekat di kursi-kursi bis yang berdebu. Kain jins yang akan diekspor ke luar negeri hanya untuk di buat celana, ditempeli merk-merk terkenal yang akhirnya dikembalikan kesini lagi dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga ekspor, negeri pembuat kain tapi tak mampu membuat celana.

Perjalananku ke Jogja selalu kurindukan. Aku rindu segarnya hawa Magelang dan damainya Muntilan yang sekejap saja terlewat tetapi memberiku perasaan lain seolah-olah aku ingin terus mendekap erat dan menikmati Dodol Muntilan dalam kardus kecil, hampir serupa saat-saat aku menjinjing Kerupuk Sanjai dalam kardus besar dari Bukittinggi setahun yang lalu meskipun akhirnya tak pernah kumakan. Tak terasa perjalananku purna sudah. Kuinjakkan kakiku di Jombor, terminal lama. Seperti hal-hal lain, sesuatu yang lama akan cenderung ditinggalkan, sepi. Tapi perkiraanku keliru, yang lama tak selalu ditinggalkan. Keramaian Jogja selalu khas dengan berbagai aktivitas. Kota etnik yang indah dengan bule-bule berlalu-lalang, para cerdik pandai yang belajar di universitas. Tak ayal julukan kota pelajar pun meluncurlah berpadu dengan kota budaya, pusatnya budaya jawa yang adiluhung, budaya yang menjunjung tinggi keberadaban. Tapi, katanya orang-orang jawa sekarang sudah tidak njawani. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Sultan tidak mau jadi Rajanya DIY karena orang-orang sudah tidak njawani lagi. Budaya tetaplah budaya, ia membutuhkan pemelihara yang tak lekang dimakan zaman. Yah, memang zaman suka memakan apa saja yang bisa dimakan tanpa harus dihidangkan diatas piring saji, tanpa bumbu-bumbu penyedap. Lalu bagaimana jika Si Pemelihara budaya habis dimakan zaman? Yang terjadi adalah ikutnya budaya bersama Si Pemelihara, termakan oleh zaman yang rakus dan tak pernah kenyang. Ternyata selama beberapa menit aku menunggu seorang teman di Jombor (bila bertandang ke Jogja aku memang selalu dijemput oleh seorang teman, selain menghemat aku juga bisa bersilaturahim dengan temanku itu), aku telah memikirkan hal-hal yang cukup dalam, sedalam perutku yang tak terisi dan bersuara kruel-kruel pertanda protes yang berlebihan seolah-olah perutku didalam sana sedang berdemo “turunkan BBM, turunkaaan!!!”.

Temanku pun datanglah dengan motor smash bergambar Batosai. Mengingatkan kepada keponakanku 6 tahun yang kemarin membeli stiker tattoo bergambar Kenshi Himura dan ditempelkan di perutnya dengan wajah yang diberi tanda silang pada bagian kirinya menggunakan spidol merah dengan sarung yang melilit supaya terlihat seperti mengenakan kimono. Agaknya keinginan keponakanku tak tercapai karena harapannya ingin seperti Batosai malah terlihat seperti badut pesanan yang mengisi acara anak-anak. Tak menunggu lama aku dan temanku, Sisri, segera berjalan menuju Kutupatran, tempat dia indekos. Sisri adalah temanku SMA dulu. Sebenarnya nama temanku itu adalah Sri Sadono, dia selalu protes saat kupanggil Sisri, seperti nama seorang sinden dari Kalioso. Dia lebih suka dipanggil Dono. Tapi, apalah arti sebuah nama? Lidahku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Perawakannya kecil, mukanya tirus dan terlihat lugu dengan rambut ikal yang disisir seadanya. Semasa SMA dia suka berdandan klimis, rambutnya selalu disisir ke belakang bak aktor Tiongkok Chow Yun Fat dalam God Of Gambler. Sejak saat itu orang lebih mengenalnya sebagai Mafia daripada seorang pelajar SMA bernama Sisri atau Dono, meskipun dia tak pernah punya musuh dari klan mafia lain seperti Al Capone atau Shiro. Kini dia bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Sleman. Tadinya dia bekerja di Pabrik yang ada di Solo, tapi tanpa sebab yang jelas pabrik itu gulung tikar. Sisri beruntung karena dipindahkan ke Jogja, sehingga dia masih bisa mencari nafkah, paling tidak untuk menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang tua. Berjalanlah kami diatas motor smash bergambar Batosai tadi, sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.07 WIB. Aku selalu menikmati perjalanan, bersama jiwaku yang merenung mengingat masa lalu saat usiaku 11 tahun, dimana aku berjalan ke sekolah melewati menara Metrologi Karangkajen yang letaknya di dekat hotel Mentari, sekitar 100 meter ke utara dari Pasar Telo. Saat bulan puasa teman-temanku akan memanjat menara 17 meter itu untuk mengintip bule-bule yang sedang berenang pada pagi hari. Sebenarnya memanjat menara itu amatlah berbahaya, menara yang terbuat dari logam itu pernah membuatku tersengat listrik. Sampai sekarang aku tak ingin tahu itu listrik dari mana, karena dua hari kemudian aku berhasil memanjatnya sambil membawa teropong.

Lalu, aku mulai melihat kemungkinan masa depan, berjalan-jalan dengan anak istriku dengan mengendarai sebuah Innova terbaru, menjelajahi malam di Ring Road, Tamansiswa hingga Malioboro yang berkelip di malam hari dan diakhiri di Gule Tamansari Pojok Beteng atau Jok Teng dengan aroma wangi teh gula batu. Namun, serentak lamunanku buyar saat Sisri berhenti di traffic light Gejayan. Ada seorang anak perempuan kira-kira 5 tahun digandeng ibunya sedangkan yang laki-laki sudah tampak remaja. Sang ibu terlihat sedang membersihkan kaca mobil Panther dengan Kemoceng dan anak perempuannya membawa keranjang kecil yang kulihat ada beberapa ribu rupiah di dalamnya. Sopir Panther membuka kaca mobil dan menyodorkan selembar uang ribuan dibarengi suara cadel yang menggemaskan dari anak kecil itu, “matulnuwun nggih Pak” (terima kasih pak). Tapi tiba-tiba anak laki-lakinya datang dan merebut keranjang berisi uang itu, “gowo rene aku njaluk nggo tuku udud, cangkemku pait” (bawa kesini aku minta buat beli rokok, mulutku pahit). Serentak Sang anak perempuan menangis dan berteriak, “Mas mesakno mak-e, kuwi nggo mangan sesuk, aja mbok jaluk kabeh” (Mas kasihan ibu, itu buat makan besok jangan kau bawa semua). Sang Ibupun ikut bicara, “Le, elingo sesuk kowe arep mangan apa? Apa kowe arep dadi maling? Kuwi duit nggoleke sak awan” (Nak, ingatlah besok kau mau makan apa? Apa kamu mau jadi maling? Uang itu carinya sejak siang hari). Bersamaan dengan larinya anak lelaki itu, lampu sudah berganti menjadi hijau. Sisri mulai berjalan lagi dan aku hanya bisa menengok ke belakang saat Sang Ibu menggendong dan memeluk anak perempuannya lalu membujuk anak itu agar berhenti menangis. Pemandangan yang membunuhku, saat seorang anak perempuan digendong ibunya dibawah cahaya traffic light, tanpa alas, tanpa peneduh.


Negeri Seperti Lumpur Hidup

Mei 15, 2008

Alam selalu mengingatkan tentang berbagai hal, dimana kita tinggal, tempat dimana kaki kita menapak diatas tanah yang lembek berlumpur, apa yang kita butuhkan, hingga apa yang harus kita lakukan. Demi sebuah pencapaian, kita rela untuk menghabiskan rasa, hingga hati-hati kita mati, padam.

Saat-saat yang sangat mengganggu bila seorang ibu ada di hadapan atau di samping kita, ibu paro baya yang menggendong anaknya 2 tahun, lalu anaknya yang kira-kira berumur 4 dan 5 tahun merengek-rengek mengikutinya. Mulailah ibu itu menyanyi khas suara rintihan jalanan yang menyayat. Sepintas amat biasa terjadi tapi menjadi tak biasa saat hati kita sensitif, melihat segala sesuatunya dengan melankolik. Adakalanya hati kita menjadi sekeras batu yang sulit hancur, tetapi ada juga saat-saat dimana kita menjadi bingung mengapa banyak sekali air mata yang menetes dibarengi sesenggukan dalam.

Sekelumit kemiskinan diatas sangat biasa terjadi di negeri ini, rumah-rumah kumuh, pengemis, gelandangan, kelaparan dan masih banyak lagi beragam kemiskinan yang tak mungkin dijelaskan satu persatu.

Semua orang akan bosan mendengar segala permasalahan negeri ini yang tak habis-habis bahkan orang-orang miskin pun akan muak menunggu ketidakpastian.

Banyak pandangan tentang hal ini, tapi menurut saya masalah terletak pada masing-masing individu dan cara individu menghadapi masalah amatlah berbeda. Banyak aspek yang membedakan, mulai dari agama, adat istiadat, kultur, pendidikan hingga lingkungan geografis. Hal itu belum pengaruh dari luar, baik luar daerah yang bertentangan kulturnya, sampai luar negeri yang didominasi oleh barat. Negeri ini memang seperti sepotong makanan enak yang gratis dan dihidangkan di suatu pesta secara prasmanan. Banyak orang yang antre untuk ikut mengambilnya. Selama hidangan belum habis, orang-orang takkan pernah pergi, bahkan yang mengadakan pesta siapa tiada yang pernah tahu, lebih-lebih kapan pesta berakhir, tak seorangpun mengerti.

Agaknya, tanah yang kita pijak ini selalu becek, basah, seperti lumpur hidup, akan selalu menenggelamkan siapa saja yang berdiri diatasnya. Semua pun berpikir, kapan tanah ini akan kering……..

Menurutku takkan pernah kering sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan mungkin lama sekali dan akan selalu membunuh, menenggelamkan penduduknya sendiri.

Negeri ini telah terserang sebuah penyakit yang mematikan, seperti kanker yang menggerogoti, seperti HIV/AIDS yang menurunkan imunitas dan daya tahan tubuh. Bila tubuh manusia terkena HIV/AIDS karena serangan virus, maka negeri ini hancur karena pengelolanya terkena sakit mental. Sakit yang tak pernah disadari. Hal ini membuktikan bahwa sakit yang menyerang dan tak disadari akan sangat berbahaya sehingga menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, meski kematian hanya milikNya.

Bila anak-anak terserang sakit mental, mereka akan segera dikirimkan oleh orangtuanya ke panti social atau semacamnya, dan pastinya perawatan akan dilakukan secara intensif. Tapi siapa yang sadar bila orang-orang yang sakit mental sedang menjadi panutan di seluruh negeri??

Yang ada adalah, pengikutnya sakit mental semua, sakit yang tak pernah disadari, dan menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, mungkinkah??????


Setiap jiwa

Mei 13, 2008

setiap jiwa yang sadar selalu mencoba untuk menuju perbaikan. tetapi takkan pernah ada perasaan dimana sang mentari kan berhenti bersinar. selalu ada harapan untuk menjadi yang diinginkan orang, namun hampir tidak ada harapan tentang apa sebenarny apa yang ingin kita capai. diri ini tak ubahnya seperti air yang mengalir mengikuti alur sungai yang meliuk-liuk tanpa sang air tahu kemana akan berlabuh. sedikit sekali yang meresap atau yang berubah haluan. alur yang menurun tajam berbatu, memecah diri dan menyatu lagi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
jika bisa, sang air ingin tahu apa yang ada di depan sana, sehingga ia bisa mengatur dirinya untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi. Sang mentari tersenyum melihat sang air nan terus melaju. sang mentari bahkan lebih tahu apa yang akan terjadi dan air pun serentak melayang saat senyum sang mentari tersenyum lebar,… sang air melayang dan terbang ringan. ia melihat betapa panjangnya perjalanan. mentari terus tersenyum hingga tak sadar sang air turun lagi ke bumi, dan ia pun siap menghadapi hidupnya.
apakah kita bisa ringan untuk mencoba melihat masa depan? apakah saat kita terbang diatas mampu untuk turun pelan2? daripada jatuh terjerembab, turunlah pelan2 saat kau ada diatas dan bersiaplah dengan lebih baik, hidupmu akan terasa lebih ringan dari biasanya…….


Dibalik Cahaya

April 30, 2008


Bila senja telah datang ku berpikir, bagaimana caranya…?

Bila malam gelap menutup pandang, kubertanya, mengapa??

Saat pagi menghampir tiba aku masih terpaku diam seolah aku tak tidur memkirkannya

Bagaimana ini terjadi???

Di sebuah lorong yang terang penuh cahaya aku berjalan mundur

Masih kupertanyakan bagaimana ini terjadi

Mengapa aku tak maju saja itu tak kupersoalkan

Aku hanya berpikir bagaimana ini terjadi


Di kelanjutan hari, aku masih di lorong itu

Sempit tapi penuh cahaya terang yang amat menyilaukan

Kusipit-sipitkan mata

Berusaha memandang

Aku masih mundur jauh ke belakang

Tapi aneh,

Semakin mundur aku, cahaya semakin redup dan aku bisa melihat sekarang

Saat aku coba untuk maju cahaya kembali menyilaukan dan begitu stabil di titik tertentu


Aku tahu sekarang, cahaya di tengah lorong amat menyilaukan

Semakin aku mundur semakin redup dan gelap

Namun, semakin aku maju cahaya silau semakin hilang

Hanya terang yang menyamankan penglihatan

Dadaku pun terbuka sedikit

Tapi aku masih tak mengerti

Mengapa semuanya bisa terjadi??

Bagaimana terjadinya??

Baca entri selengkapnya »


FOLK

April 29, 2008

Wajah-wajah di balik bukit sana terlihat silau. Membawa nampan-nampan berisi beras kebahagiaan, ember berisi lapang hati dan toples-toples kecil berisi senyuman yang boleh diambil siapapun dan kapanpun tanpa harus menunggu dihidangkan saat lebaran. Orang-orang berkata bahwa itu tidaklah mungkin, karena disana tidak pernah ada bukit. Kata orang, disana hanya ada sebuah kuburan kecil yang tak terawat dan nampak menakutkan. Tapi percayalah padaku bahwa disana memang ada seperti itu, yakinlah! Hehehe… mengapa aku mesti berbohong, kalau tidak percaya coba kalian kesana. Tapi jangan pernah ajak aku karena aku sudah pernah melihatnya, dan bagiku itu sudah sangat mengesankan, aku tak mau kesana lagi. Kemarin seorang temanku mencoba mengajakku ke tempat itu, tapi aku tidak mau dan ternyata dia pergi ke tempat itu sendirian. Malam harinya dia berkata padaku bahwa dia tidak melihat apapun disana. Lalu kutanyakan apakah dia menaiki sebuah bukit. Dia menjawab tidak, karena tak ada bukit. Lalu kutanya dia pergi ke arah mana. Dia menuju ke arah barat. Salah, seharusnya dia tidak pergi ke arah barat, timur, selatan, utara, tenggara atau arah manapun, tapi suatu tempat yang sampai sekarang arahnya belum pernah diketahui. Aku pun tak tahu tepatnya dimana. Tempat itu adalah dimana telunjuk tak bisa menunjuk. Kalau kalian menunjuk berarti itu menuju ke arah tertentu, tapi ini tidak! Tidak tertunjuk. Pokoknya tempatnya asyik, temanku bertambah banyak, dan setelah dari sana tubuhku selalu terasa segar, tapi ada satu hal yang tak pernah kupahami, setelah pulang dari sana aku ingin sekali cepat mati, ya…. cepat mati. Ya Rabb aku ingin mati… Namun, itu tidak mungkin.

Saat itu aku yakin bahwa memang ada di balik bukit sana. Aku melihat banyak orang berjalan hilir mudik tersenyum dan anehnya, pakaian mereka sama semua. Lalu kuceritakan pada semua orang bahwa aku pernah melihat itu, tapi orang-orang menganggapku sudah gila dan aku hanya pemimpi. Tapi percayalah bahwa itu benar aku tidak gila dan aku pun tidak bermimpi, itu semua nyata, nyata sekali. Laiknya kenyataan yang telah kuhadapi hingga saat ini.