Dibalik Cahaya

April 30, 2008


Bila senja telah datang ku berpikir, bagaimana caranya…?

Bila malam gelap menutup pandang, kubertanya, mengapa??

Saat pagi menghampir tiba aku masih terpaku diam seolah aku tak tidur memkirkannya

Bagaimana ini terjadi???

Di sebuah lorong yang terang penuh cahaya aku berjalan mundur

Masih kupertanyakan bagaimana ini terjadi

Mengapa aku tak maju saja itu tak kupersoalkan

Aku hanya berpikir bagaimana ini terjadi


Di kelanjutan hari, aku masih di lorong itu

Sempit tapi penuh cahaya terang yang amat menyilaukan

Kusipit-sipitkan mata

Berusaha memandang

Aku masih mundur jauh ke belakang

Tapi aneh,

Semakin mundur aku, cahaya semakin redup dan aku bisa melihat sekarang

Saat aku coba untuk maju cahaya kembali menyilaukan dan begitu stabil di titik tertentu


Aku tahu sekarang, cahaya di tengah lorong amat menyilaukan

Semakin aku mundur semakin redup dan gelap

Namun, semakin aku maju cahaya silau semakin hilang

Hanya terang yang menyamankan penglihatan

Dadaku pun terbuka sedikit

Tapi aku masih tak mengerti

Mengapa semuanya bisa terjadi??

Bagaimana terjadinya??

Baca entri selengkapnya »

Iklan

FOLK

April 29, 2008

Wajah-wajah di balik bukit sana terlihat silau. Membawa nampan-nampan berisi beras kebahagiaan, ember berisi lapang hati dan toples-toples kecil berisi senyuman yang boleh diambil siapapun dan kapanpun tanpa harus menunggu dihidangkan saat lebaran. Orang-orang berkata bahwa itu tidaklah mungkin, karena disana tidak pernah ada bukit. Kata orang, disana hanya ada sebuah kuburan kecil yang tak terawat dan nampak menakutkan. Tapi percayalah padaku bahwa disana memang ada seperti itu, yakinlah! Hehehe… mengapa aku mesti berbohong, kalau tidak percaya coba kalian kesana. Tapi jangan pernah ajak aku karena aku sudah pernah melihatnya, dan bagiku itu sudah sangat mengesankan, aku tak mau kesana lagi. Kemarin seorang temanku mencoba mengajakku ke tempat itu, tapi aku tidak mau dan ternyata dia pergi ke tempat itu sendirian. Malam harinya dia berkata padaku bahwa dia tidak melihat apapun disana. Lalu kutanyakan apakah dia menaiki sebuah bukit. Dia menjawab tidak, karena tak ada bukit. Lalu kutanya dia pergi ke arah mana. Dia menuju ke arah barat. Salah, seharusnya dia tidak pergi ke arah barat, timur, selatan, utara, tenggara atau arah manapun, tapi suatu tempat yang sampai sekarang arahnya belum pernah diketahui. Aku pun tak tahu tepatnya dimana. Tempat itu adalah dimana telunjuk tak bisa menunjuk. Kalau kalian menunjuk berarti itu menuju ke arah tertentu, tapi ini tidak! Tidak tertunjuk. Pokoknya tempatnya asyik, temanku bertambah banyak, dan setelah dari sana tubuhku selalu terasa segar, tapi ada satu hal yang tak pernah kupahami, setelah pulang dari sana aku ingin sekali cepat mati, ya…. cepat mati. Ya Rabb aku ingin mati… Namun, itu tidak mungkin.

Saat itu aku yakin bahwa memang ada di balik bukit sana. Aku melihat banyak orang berjalan hilir mudik tersenyum dan anehnya, pakaian mereka sama semua. Lalu kuceritakan pada semua orang bahwa aku pernah melihat itu, tapi orang-orang menganggapku sudah gila dan aku hanya pemimpi. Tapi percayalah bahwa itu benar aku tidak gila dan aku pun tidak bermimpi, itu semua nyata, nyata sekali. Laiknya kenyataan yang telah kuhadapi hingga saat ini.


My Rendezvous

April 21, 2008

My Rendezvous

Pertemuanku senantiasa berbekas. Kadang dalam tusukan, kadang hanya noda kecil. Selama hidup takkan pernah terjadi bila kita tak berjalan maju. My rendezvous, ada catatan kecil dalam buku sakuku, dimana orang-orang mengamen dan bernyanyi, dimana orang-orang membaca puisi satu hingga dua kata dengan berapi-api lalu berjalan urut dari depan hingga ke belakang tak terlewat sambil menyodorkan plastik tempat permen. Rinduku tak tertahankan lagi untuk mengangankannya. Sungguh jalan raya Joglosemar adalah cermin kehidupan untuk bagaimana memandang diri dalam sisi lain.

My rendezvous, dimana orang-orang menunduk penuh harap, dimana orang-orang merasa berhak atas kehidupan mereka. Aku pernah tertawa dalam duka orang-orang itu, tapi aku juga pernah menangis meski takkan keluar air mata. My rendezvous, mengantar pada insomnia berminggu-minggu, menjaga keterjagaan dan memaksa untuk tak menutup mata. Sampai pelangi tak berwarna lagi mereka menunggu uluran, bukan tangan, melainkan kepala-kepala yang sudi untuk melihat wajah sendu nan ceria di pinggir trotoar. Tangan ini akan mudah terulur tetapi sering sekali mata ini tak mau melihat. Romantisme dalam diri membelah masa lalu kehidupan, saat my rendezvous pertamakali merekam dalam memori yang mudah mengingat dalam sekejap dan kemudian hilang. Hingga memori pelupa ini penuh dengan wajah-wajah lebam, hitam dan kotor dengan suara melengking nyaring. Hidup ini seperti mentari yang tak dapat bersinar, hanya membuat penuh dunia, tak berguna. Baca entri selengkapnya »


kemarin aku bertanya……

April 2, 2008

ganjil2.jpg

kemarin aku bertanya pada orang yang lewat di depan kampusku

Mas lagi nyari apa??atau tepatnya siapa…..

dia bingung mencari dosen pembimbingnya yang ternyata masih ada seminar di paris. benarlah dia takkan menemukanya dalam seminggu ini….

kecewa segera menggelayuti wajahnya yang penuh jerawat, tak terkatakan beratnya saat pendidikan memaksa kita untuk menyelesaikannya dalam usia 23 tahun. padahal pikirku pendidikan bukanlah dibatasi umur, semester atau IPK. aku bilang, pendidikan membentuk moral dan mentalku, bukan mencari angka-angka.

tapi, dunia sudah berubah. sekarang, pendidikan adalah menyelesaikan sesuatu bukan mencarinya. Sampai saat ini aku sedang tak paham, apakah aku sedang menyelesaikan sesuatu atau mencarinya. kalau menyelesaikan niscaya takkan pernah selesai. tapi kalau mencari, aku sedang mencari apa???

kuputuskan saja aku mencari emas, emas memang sangat berharga.

aku mendengar, bahwa kawan2ku juga mencari, tapi mereka mencari batu kali. “berapa harga batu kali??” kata kakakku yang sekarang sedang S2.

amboooiii, betapa tersesatnya mereka, aku tak mau tersesat……

satu hal yang buat aku harus sadar. sekarang aku sudah mencari di tempat dan jalan yang benar apa tidak…

kalau aku kliru mencarinya, matilah aku…..


Kawan2ku, hari ini….

April 1, 2008

Tentunya kawan-kawan ingat saat kita pertama datang di tempat ini (fapet undip), dimana kita mencium harumnya aroma kotoran ayam dan lembutnya tai sapi yang dengan begitu bodohnya kita buat luluran di kedua tangan kita. Sungguh indah saat itu dan mungkin sebagian dari kita takkan mampu untuk melupakannya meski telah berusaha keras

Tak terasa waktu yang begitu sempit memberikan banyak pengalaman dan kenangan yang luar biasa indah, lucu dan terkadang bego’. Indahnya kebersamaan, lucunya tindakan bodoh dan hal-hal aneh yang lain seharusnya membuat kita semakin matang dan siap menghadapi dunia yang lebih berat daripada sekedar praktikum ataupun ujian semesteran. Mulailah kita bertanya pada diri kita, apa yang sudah kita dapat hngga saat ini, apakah kita mendapatkan sesuatu yang berharga dan bisa kita jual setelah ini??? Ataukah kita hanya sekedar mendapat “gombal” dan “sampah” yang kita bingung bagaimana cara menjualnya bahkan tak tahu cara menggunakannya.

Beribu-ribu terima kasih kita ucapkan kepada dosen wali kita yang tercinta, Pak Edy Riyanto, Pak Priyo Sambodho dan Bu Sri Kismiati. Dengan kasih sayang beliau menuntun kita dari awal hingga akhir kuliah nanti untuk tetap tegak saat kapal yang kita tumpangi oleng kesana kemari.

Kawan-kawan, begitu berbahayanya waktu bila kita tak menggunakannya sebaik mungkin, ia bagaikan dua sisi mata pedang yang saat kita lengah dapat menebas leher kita. Semoga yang kita lalui selama ini bukanlah waktu yang terbuang percuma, bukan saat yang tak berbekas apa-apa dan segera hilang dari hati ataupun ingatan kita.

akan sangat membahagiakan apabila kita semua segera memberi kabar kesuksesan saat kita telah meninggalkan tempat ini…………………………