My Rendezvous

My Rendezvous

Pertemuanku senantiasa berbekas. Kadang dalam tusukan, kadang hanya noda kecil. Selama hidup takkan pernah terjadi bila kita tak berjalan maju. My rendezvous, ada catatan kecil dalam buku sakuku, dimana orang-orang mengamen dan bernyanyi, dimana orang-orang membaca puisi satu hingga dua kata dengan berapi-api lalu berjalan urut dari depan hingga ke belakang tak terlewat sambil menyodorkan plastik tempat permen. Rinduku tak tertahankan lagi untuk mengangankannya. Sungguh jalan raya Joglosemar adalah cermin kehidupan untuk bagaimana memandang diri dalam sisi lain.

My rendezvous, dimana orang-orang menunduk penuh harap, dimana orang-orang merasa berhak atas kehidupan mereka. Aku pernah tertawa dalam duka orang-orang itu, tapi aku juga pernah menangis meski takkan keluar air mata. My rendezvous, mengantar pada insomnia berminggu-minggu, menjaga keterjagaan dan memaksa untuk tak menutup mata. Sampai pelangi tak berwarna lagi mereka menunggu uluran, bukan tangan, melainkan kepala-kepala yang sudi untuk melihat wajah sendu nan ceria di pinggir trotoar. Tangan ini akan mudah terulur tetapi sering sekali mata ini tak mau melihat. Romantisme dalam diri membelah masa lalu kehidupan, saat my rendezvous pertamakali merekam dalam memori yang mudah mengingat dalam sekejap dan kemudian hilang. Hingga memori pelupa ini penuh dengan wajah-wajah lebam, hitam dan kotor dengan suara melengking nyaring. Hidup ini seperti mentari yang tak dapat bersinar, hanya membuat penuh dunia, tak berguna.

Halte di Tirtonadi, Penggung, Kartasura, Klaten, Boyolali, Tidar ataupun Terboyo dan setiap traffic light menjadi saksi bisu berapa sebenarnya jumlah orang yang datang dan pergi menenteng sesuatu dari kayu bersenar yang berbunyi “jreeng” atau papan kecil berpaku dengan bekas tutup botol minuman ringan berirama “icik-icik”.

My rendezvous, hatiku selalu basah dan lembab diiringi cuaca panas dan aroma tak sedap. Irisan pisau tumpul yang menyakitkan dalam sesak dada senantiasa menyertai kepergianku melintasi Joglosemar. Sekiranya aku bisa aku akan terbang saja sambil menutup mata, tapi sia-sia karena suaranya begitu keras miris, membuat tenggorokan tercekat. Mereka begitu tersebar, ada di setiap jengkal aspal, mencari kenyamanan dalam keteduhan jembatan tol ataupun kesejukan dibawah bulatan menyilaukan nun jauh diatas sana namun terasa dekat menyengat di trotoar yang membelah jalan ke arah Pleburan. Mereka putus harapan akibat kerasnya hidup dan kehidupan. Demi sekeping koin bekas kerokan yang sisa balsemnya belum luntur, takkan pernah patah arang menghadang.

Suara mereka mulai nyaring bersenandung keluhan dan beratnya hidup, “sing maringi akeh tak dongakke slamet, sing maringi sithik tak dongakke slamet, sing ora maringi muga-muga ora mumet”. My rendezvous, perhelatan akbar dalam pencarian kehidupan. My rendezvous takkan pernah berakhir di Joglosemar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: