Negeri Seperti Lumpur Hidup

Alam selalu mengingatkan tentang berbagai hal, dimana kita tinggal, tempat dimana kaki kita menapak diatas tanah yang lembek berlumpur, apa yang kita butuhkan, hingga apa yang harus kita lakukan. Demi sebuah pencapaian, kita rela untuk menghabiskan rasa, hingga hati-hati kita mati, padam.

Saat-saat yang sangat mengganggu bila seorang ibu ada di hadapan atau di samping kita, ibu paro baya yang menggendong anaknya 2 tahun, lalu anaknya yang kira-kira berumur 4 dan 5 tahun merengek-rengek mengikutinya. Mulailah ibu itu menyanyi khas suara rintihan jalanan yang menyayat. Sepintas amat biasa terjadi tapi menjadi tak biasa saat hati kita sensitif, melihat segala sesuatunya dengan melankolik. Adakalanya hati kita menjadi sekeras batu yang sulit hancur, tetapi ada juga saat-saat dimana kita menjadi bingung mengapa banyak sekali air mata yang menetes dibarengi sesenggukan dalam.

Sekelumit kemiskinan diatas sangat biasa terjadi di negeri ini, rumah-rumah kumuh, pengemis, gelandangan, kelaparan dan masih banyak lagi beragam kemiskinan yang tak mungkin dijelaskan satu persatu.

Semua orang akan bosan mendengar segala permasalahan negeri ini yang tak habis-habis bahkan orang-orang miskin pun akan muak menunggu ketidakpastian.

Banyak pandangan tentang hal ini, tapi menurut saya masalah terletak pada masing-masing individu dan cara individu menghadapi masalah amatlah berbeda. Banyak aspek yang membedakan, mulai dari agama, adat istiadat, kultur, pendidikan hingga lingkungan geografis. Hal itu belum pengaruh dari luar, baik luar daerah yang bertentangan kulturnya, sampai luar negeri yang didominasi oleh barat. Negeri ini memang seperti sepotong makanan enak yang gratis dan dihidangkan di suatu pesta secara prasmanan. Banyak orang yang antre untuk ikut mengambilnya. Selama hidangan belum habis, orang-orang takkan pernah pergi, bahkan yang mengadakan pesta siapa tiada yang pernah tahu, lebih-lebih kapan pesta berakhir, tak seorangpun mengerti.

Agaknya, tanah yang kita pijak ini selalu becek, basah, seperti lumpur hidup, akan selalu menenggelamkan siapa saja yang berdiri diatasnya. Semua pun berpikir, kapan tanah ini akan kering……..

Menurutku takkan pernah kering sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan mungkin lama sekali dan akan selalu membunuh, menenggelamkan penduduknya sendiri.

Negeri ini telah terserang sebuah penyakit yang mematikan, seperti kanker yang menggerogoti, seperti HIV/AIDS yang menurunkan imunitas dan daya tahan tubuh. Bila tubuh manusia terkena HIV/AIDS karena serangan virus, maka negeri ini hancur karena pengelolanya terkena sakit mental. Sakit yang tak pernah disadari. Hal ini membuktikan bahwa sakit yang menyerang dan tak disadari akan sangat berbahaya sehingga menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, meski kematian hanya milikNya.

Bila anak-anak terserang sakit mental, mereka akan segera dikirimkan oleh orangtuanya ke panti social atau semacamnya, dan pastinya perawatan akan dilakukan secara intensif. Tapi siapa yang sadar bila orang-orang yang sakit mental sedang menjadi panutan di seluruh negeri??

Yang ada adalah, pengikutnya sakit mental semua, sakit yang tak pernah disadari, dan menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, mungkinkah??????

Iklan

7 Responses to Negeri Seperti Lumpur Hidup

  1. anin berkata:

    semoga akan segera ada anti viral & terapi psikologis untuk mengatasi permasalahan bangsa kita atau mungkin diri kita sendiri

  2. fauzansigma berkata:

    ehm…ehm..siapakah yg berkomentar diatas?
    well, good hand out bro…!
    touching bgt

  3. realylife berkata:

    hemmm , ayo doakan semoga mentalnya cepat sembuh
    setuju ?

  4. anin berkata:

    ehm ehm..alfi numpang ya..
    eh ada sigma to, cukup banyak mendengar cerita ttgmu..hehehe

  5. fauzansigma berkata:

    @ ANIN: hooo… sigma itu hanya sekedar menjadi kotoran kecil pada luar biasanya alfi…
    @ monyet: UPDATE BUNG!

  6. ihza ramadhan berkata:

    Kita saling do’akan ja, mudh”an Tuhan berikan yg trbaik kpd kt semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: