My Rendezvous (Part 3)

Februari 26, 2009

Setelah pemandangan di Gejayan aku sudah tak ingat lagi berapa kali aku menyaksikan kejadian serupa. Aku juga sudah tak ingat lagi bagaimana wajah Sisri sekarang, karena ia tak pernah lagi menjemputku di Jombor ataupun Janti. Meskipun baru setahun aku tak bersua, tapi sepertinya aku baru bertemu dengan muka tirus pekerja keras itu kemarin sore. Sisri adalah contoh jiwa masa kini yang perlu ditiru generasi muda. Pantang menyerah dan selalu ceria menghadapi setiap masalah. Tak seperti diriku yang selalu banyak keluh dan kesah, seolah-olah baru saja tertimpa gunung yang menghimpit, sesak lalu terkubur bersamanya. Mungkin aku terlalu meremehkan setiap masalah yang datang. Tapi setidaknya dengan sedikit meremehkan aku bisa bersantai dan tak memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Atau mungkin aku terlalu menganggap berat sebuah masalah, sampai-sampai aku mengira hanya Moldy-lah yang punya teknik gitar seperti itu. Sungguh mengejutkan saat aku melihat pengamen di bus Jogja-Solo yang memiliki teknik bermain gitar persis seperti Moldy. Hidup ini memang penuh kejutan. Masalah berat akan selalu datang, seperti belajar gitar gaya Moldy, namun akan selalu terselesaikan bila kita berniat. Pun hidup ini ringan namun masalah-masalah akan semakin runyam saat kita tak berfikir untuk mempersiapkan. Agaknya setiap rendezvous-ku memang telah dipersiapkan untuk itu.

Seperti sore di awal Februari yang dingin dan mendung. Aku bertemu dengan kawanku semasa SMA, Muara, di sebuah kampus kebanggaan warga kota Solo. Setelah sekian lama tak tahu kabar, kami mencoba luangkan waktu untuk sedikit berkontemplasi tentang masa-masa puber kami. Muara, kawanku itu seperti seorang superstar saat SMA. Cerdas, dengan potongan yang gaul dan disukai kawan-kawan. Kehidupanku bersamanya saat SMA tak bisa dibilang seperti gay karena kami berdua memang masih normal. Disamping kami tidak selalu ketemu, kami juga memiliki aktivitas yang berbeda. Aku adalah seorang aktivis sekolah yang kurang kerjaan sedangkan kawanku, Muara, adalah seseorang dengan kehidupan yang lebih asyik, hidup yang penuh gondrink dan mainan. Sesuatu yang saat itu ingin sekali kulakukan namun aku tak mampu. Hingga kini aku tak pernah melakukannya karena menurut Muara, yang kulakukan sekarang berbeda dengan mainan saat SMA, kini ini disebut dengan tenanan. Kalau gondrink, sumpah aku takkan melakukannya seumur hidupku!!

Ketika itu aku memang sudah berfikir bahwa Muara memang seorang yang penuh bakat, namun aku tak pernah tahu apa yang ia rencanakan di masa depan. Hingga pada suatu saat kutemukan dia dalam aktivitas yang luar biasa baik daripada sekedar mainan dan gondrink. Meskipun ia juga sama sepertiku, tenanan dan ia hanya tinggal menunggu hitungan bulan untuk membuatnya lebih tenanan lagi. Memang benar, Tuhan akan sesuai kehendakNya untuk membalikkan sebuah keadaan, dari A menjadi B dan seterusnya tanpa kita pikirkan sebelumnya.

Aku terlalu banyak kehilangan kontak dengan sahabat-sahabatku semasa SMA. Kurasa Muara adalah salah seorang sahabat yang masih berkontak denganku sejak lulus SMA hingga sekarang. Aku benar-benar merasakan bahwa seseorang akan selalu butuh sahabat untuk menjalani hidup, tak bisa tidak. Dan Muara adalah sahabat yang sampai saat ini sangat berarti dalam menjalani setiap perjalanan. Pertemuanku dengan Muara sore itu dijemput oleh suasana malam kota Hadiningrat yang mendung dan menenangkan. Slamet Riyadi yang metropolis, Loji Wetan yang mengingatkanku pada Ayam Goreng Mbak Yeyen nan lezat dan Kerten yang sangat indah. Kerten memang indah saat aku datang dari Semarang, namun Kerten seperti sangat muram saat aku akan meninggalkannya. Menurutku Solo dan Kerten tak pantas untuk ditinggalkan. Sungguh saat-saat yang paling menyedihkan buatku saat harus meninggalkan Kerten menuju Semarang. Makanya aku selalu memilih untuk lewat Karanggede yang lengang dan segar saat kembali dari rumahku di Sragen ke Semarang karena tak tega. Perjalanan kami berlanjut menuju Mie Ayam Pocong di Makamhaji, tapi sayang kekecewaan merayap saat kami tahu bahwa Mie Ayam Pocong sudah tutup. Akhirnya suara perut kami menuntun ke Sate Ponorogo di Pasar Legi yang cukup ramai. Hidup ini banyak pilihan, seperti saat memilih warung makan.

Tujuan hidup kita belum tentu tercapai sesuai target. Mie Ayam Pocong yang tutup telah membuktikannya. Mungkin kita akan mendatanginya lain kali. Tetapi sesuatu yang mendesak takkan butuh menunggu, ia butuh alternatif jika tujuan utama tak terpenuhi. Di tempat berbeda, namun sama-sama memenuhi hakikat tujuan, itu sama saja menurutku. Walaupun secara taste berbeda, namun tetap tercapai tujuannya. Hidup akan senantiasa begitu, dan kita memang harus mulai berfikir untuk mempersiapkannya. Hmmm, tapi Sate Ponorogo memang cukup lezat, karena setelah makan sate ayam bersama sepiring nasi kami masih memesan lagi sepiring lontong untuk memenuhi perut kami yang berunjuk rasa.

Selepas dari Pasar Legi, Muara mengajakku sebuah kafe yang etnik di Mendungan, Kartasura. Kafe itu terletak di jalan yang menuju ke SMA Mendungan. Perabotannya kental dengan nuansa tradisional dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan pencahayaan yang tak terlalu terang, tapi cukup ayem bila kita mengunjunginya di malam hari yang dingin. Malam itu cuaca di Mendungan memang dingin, meskipun begitu suasana menjadi hangat dengan banyaknya pengunjung kafe yang menyeruput kopi sambil menonton Indonesia Super League antara Persik Kediri vs Sriwijaya FC Palembang. Pertandingan malam itu menarik karena Budi Sudarsono, striker Timnas, yang saat paruh pertama membela Persik kini harus memakai kostum Sriwijaya untuk melawan tim yang telah membesarkan namanya. Ya, Budi dijual ke Palembang karena Persik mengalami krisis keuangan. Kurasa Budi sebagai pemain profesional takkan terpengaruh dengan status barunya itu. Lalu aku sempat berfikir bahwa sesuatu memang akan cepat sekali berubah, beberapa jam lalu mungkin kita sambil berapi-api membela satu hal, tapi sangat mungkin beberapa jam setelahnya kita menjadi berseberangan. Sepertinya Tan Malaka benar bahwa hidup ini selalu berubah, yang ada hanyalah perubahan tentang kepastian atau kepastian tentang perubahan, rumit memang.

Aku segera memesan secangkir capuccino hangat yang cepat-cepat kuhirup. Aku berfikir dengan sepiring French Fries mungkin akan semakin mengasyikkan, dan kami memang segera larut dalam obrolan panjang tentang apa yang sudah kami lakukan selama ini dengan mulut seperti Selepan yang berbunyi ”gruuuuuungngngng!!!”. Namun ada satu hal berbeda dari Muara yang kukenal dulu, ia berfikir lebih dewasa dan bijak. Sesuatu yang hampir mustahil bila kuingat tingkahnya semasa SMA. Yah, mungkin karena dia memang aktivis kampus atau kegemarannya nge-blog jadi membuat fikirannya lebih dewasa. Dalam serunya obrolan kami, aku tersentak karena tiba-tiba ia bertanya tentang sesuatu yang asing bagiku,

”An, menurutmu menikah itu perlu cinta atau tidak?”

Aku pun tepekur untuk beberapa detik. ”Hmmm, mungkin banyak orang berpendapat Ra. Terkadang orang berfikir takkan menikah dengan yang tak dicintainya, tapi sebagian orang jaman sekarang memastikan bahwa cinta akan datang belakangan setelah ijab-kabul terlaksana”, jawabku.

Lalu kamu tipe yang seperti apa Ra?”

Kalau kulihat gelagatmu, kau takkan bisa menahan cinta baru datang belakangan Ra, hahaha. Engkau pastinya butuh cinta dulu, ya kan?”, cecarku penuh penasaran.

Yaaa……, mungkin sih. Cinta itu menyembuhkan An, bahkan orang yang tidak sakit akan sembuh kalau sudah kena cinta”, akunya.

Seumuranku ini sudah tak ada lagi mainan, bisa dibilang tenanan gitu lah, karena kita memang harus memikirkan masa depan dari sekarang. Alaah, kamu itu seperti tak punya cinta saja, padahal kamu itu king of gombal! Diam-diam gombalmu itu membungkus banyak wanita, hahahaha”, lanjutnya.

Gundulmu kuwi Ra! Yang gombal itu aku apa kamu? Weleh-weleh, coba saja renungkan omonganmu itu, mana ada orang tidak sakit bisa sembuh, wong edan atau romantis kamu? Sepertinya sudah tak ada batas lagi antara romantis dan gila ckckckck”, ujarku.

(Bersambung…)


My Rendezvous (Part 2)

Februari 24, 2009

Perjalananku tak pernah berakhir. Seperti saat aku berangkat dari Semarang, kota yang takkan pernah padam menurutku. Tata kota sentuhan Belanda dengan tekstur tanah yang aneh. Pikirku, Semarang memang kota unik. Dengan berbagai budaya yang serba bercampur memunculkan aroma Semarangan yang nyeleneh. Bila Solo dan Jogja punya Kraton sebagai simbol eksistensi budaya Jawa, Semarang tak pernah punya, hanya semacam kota pelabuhan penuh pendatang sepertiku yang amat panas terik dengan hiasan Sam Poo Kong dan Lawang Sewu nan eksotis. Sore itu adalah di awal bulan Mei, jasadku masih berada di hiruk pikuknya Sukun ditemani benda-benda kotak besar berisi manusia yang sangat mengganggu, derum kencangnya hampir merusak telinga dan sisa napasnya yang hitam diprotes di seluruh dunia karena selain mengganggu kesehatan juga ikut andil dalam Global Warming. Tapi, justru benda itulah satu-satunya yang dapat membawaku sampai ke tujuanku, Jogjakarta. Waktu kecil, aku menyebutnya dengan Kota Mainan Baru, karena disanalah aku mendapatkan banyak sekali mainan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Di kota inilah aku tahu tentang Winning Eleven, saat teman-temanku di Kalioso masih bermain Plinthengan, disana aku tahu tentang Prehistoric yang lucu dan robot Gundam saat teman-temanku di Pojoksari masih memanjat pohon untuk mengambil susoh manuk. Pun aku tahu tentang cinta monyet saat Ninuk, teman SDku kelas 5 meminjamiku Tamagochi kadal, hingga hal tersebut menjadi gosip seantero kelas. Aku pun bersyukur karena saat itu belum ada Kiss, i-Gosip atau Insert dan acara-acara gosip lainnya.

Jogja, meskipun begitu dekat jaraknya dari Semarang, tetap membuatku merasa kejauhan saat dalam kepenatan, penat yang seharusnya akan terbayar lunas saat aku sampai disana. Keinginan untuk cepat sampai sudah tak tertahan bersama dengan keharusan untuk menunggu yang membuat keringat dingin bercucuran. Kotak-kotak besar beroda mulai berjajar di depanku, tapi yang kucari belum juga datang. Memang ada sebuah yang cukup mewah dan sepertinya ada pendinginnya, tapi aku tak berani memasukinya, karena bisa-bisa aku kedinginan. Bukan badanku melainkan kantongku. Ya, kantongku tak cukup tebal untuk menahan dinginnya AC. Lebih baik kepanasan asalkan masih ada yang bisa dirogoh dalam kantong. Tak lama kemudian datanglah sebuah kotak besar yang agak kotor dengan kaca jendela yang sudah kusam, sedangkan kaca di depan pengemudi sudah retak seperti sambaran petir. Dengan agak tergesa aku segera berlari berharap masih ada kursi yang bisa mengenyahkan sekejap kepenatanku. Tapi harapanku tak terwujud. Bus begitu sesak dipenuhi orang-orang yang baru pulang bekerja. Hari sudah sore, takkan ada gunanya aku menunggu bus yang kosong. Pada waktu-waktu seperti ini bus akan selalu penuh hingga menjelang isya nanti. Biarlah aku berdiri bercampur peluh para buruh. Perjalananku pun dimulailah, kubayangkan aku akan menikmati sejuknya jalan di Jambu dan Magelang ditemani tetesan peluh buruh pabrik tekstil Ungaran yang naik di sekitar Bergas. Obrolan mereka tak pernah jauh dari mahalnya harga barang-barang, sulitnya hidup di zaman sekarang dan tentang kesulitan hidup yang lain. Obrolan berlanjut hingga kebanyakan mereka turun di sekitar Secang, sedangkan aroma kain masih terbau lekat di kursi-kursi bis yang berdebu. Kain jins yang akan diekspor ke luar negeri hanya untuk di buat celana, ditempeli merk-merk terkenal yang akhirnya dikembalikan kesini lagi dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga ekspor, negeri pembuat kain tapi tak mampu membuat celana.

Perjalananku ke Jogja selalu kurindukan. Aku rindu segarnya hawa Magelang dan damainya Muntilan yang sekejap saja terlewat tetapi memberiku perasaan lain seolah-olah aku ingin terus mendekap erat dan menikmati Dodol Muntilan dalam kardus kecil, hampir serupa saat-saat aku menjinjing Kerupuk Sanjai dalam kardus besar dari Bukittinggi setahun yang lalu meskipun akhirnya tak pernah kumakan. Tak terasa perjalananku purna sudah. Kuinjakkan kakiku di Jombor, terminal lama. Seperti hal-hal lain, sesuatu yang lama akan cenderung ditinggalkan, sepi. Tapi perkiraanku keliru, yang lama tak selalu ditinggalkan. Keramaian Jogja selalu khas dengan berbagai aktivitas. Kota etnik yang indah dengan bule-bule berlalu-lalang, para cerdik pandai yang belajar di universitas. Tak ayal julukan kota pelajar pun meluncurlah berpadu dengan kota budaya, pusatnya budaya jawa yang adiluhung, budaya yang menjunjung tinggi keberadaban. Tapi, katanya orang-orang jawa sekarang sudah tidak njawani. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Sultan tidak mau jadi Rajanya DIY karena orang-orang sudah tidak njawani lagi. Budaya tetaplah budaya, ia membutuhkan pemelihara yang tak lekang dimakan zaman. Yah, memang zaman suka memakan apa saja yang bisa dimakan tanpa harus dihidangkan diatas piring saji, tanpa bumbu-bumbu penyedap. Lalu bagaimana jika Si Pemelihara budaya habis dimakan zaman? Yang terjadi adalah ikutnya budaya bersama Si Pemelihara, termakan oleh zaman yang rakus dan tak pernah kenyang. Ternyata selama beberapa menit aku menunggu seorang teman di Jombor (bila bertandang ke Jogja aku memang selalu dijemput oleh seorang teman, selain menghemat aku juga bisa bersilaturahim dengan temanku itu), aku telah memikirkan hal-hal yang cukup dalam, sedalam perutku yang tak terisi dan bersuara kruel-kruel pertanda protes yang berlebihan seolah-olah perutku didalam sana sedang berdemo “turunkan BBM, turunkaaan!!!”.

Temanku pun datanglah dengan motor smash bergambar Batosai. Mengingatkan kepada keponakanku 6 tahun yang kemarin membeli stiker tattoo bergambar Kenshi Himura dan ditempelkan di perutnya dengan wajah yang diberi tanda silang pada bagian kirinya menggunakan spidol merah dengan sarung yang melilit supaya terlihat seperti mengenakan kimono. Agaknya keinginan keponakanku tak tercapai karena harapannya ingin seperti Batosai malah terlihat seperti badut pesanan yang mengisi acara anak-anak. Tak menunggu lama aku dan temanku, Sisri, segera berjalan menuju Kutupatran, tempat dia indekos. Sisri adalah temanku SMA dulu. Sebenarnya nama temanku itu adalah Sri Sadono, dia selalu protes saat kupanggil Sisri, seperti nama seorang sinden dari Kalioso. Dia lebih suka dipanggil Dono. Tapi, apalah arti sebuah nama? Lidahku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Perawakannya kecil, mukanya tirus dan terlihat lugu dengan rambut ikal yang disisir seadanya. Semasa SMA dia suka berdandan klimis, rambutnya selalu disisir ke belakang bak aktor Tiongkok Chow Yun Fat dalam God Of Gambler. Sejak saat itu orang lebih mengenalnya sebagai Mafia daripada seorang pelajar SMA bernama Sisri atau Dono, meskipun dia tak pernah punya musuh dari klan mafia lain seperti Al Capone atau Shiro. Kini dia bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Sleman. Tadinya dia bekerja di Pabrik yang ada di Solo, tapi tanpa sebab yang jelas pabrik itu gulung tikar. Sisri beruntung karena dipindahkan ke Jogja, sehingga dia masih bisa mencari nafkah, paling tidak untuk menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang tua. Berjalanlah kami diatas motor smash bergambar Batosai tadi, sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.07 WIB. Aku selalu menikmati perjalanan, bersama jiwaku yang merenung mengingat masa lalu saat usiaku 11 tahun, dimana aku berjalan ke sekolah melewati menara Metrologi Karangkajen yang letaknya di dekat hotel Mentari, sekitar 100 meter ke utara dari Pasar Telo. Saat bulan puasa teman-temanku akan memanjat menara 17 meter itu untuk mengintip bule-bule yang sedang berenang pada pagi hari. Sebenarnya memanjat menara itu amatlah berbahaya, menara yang terbuat dari logam itu pernah membuatku tersengat listrik. Sampai sekarang aku tak ingin tahu itu listrik dari mana, karena dua hari kemudian aku berhasil memanjatnya sambil membawa teropong.

Lalu, aku mulai melihat kemungkinan masa depan, berjalan-jalan dengan anak istriku dengan mengendarai sebuah Innova terbaru, menjelajahi malam di Ring Road, Tamansiswa hingga Malioboro yang berkelip di malam hari dan diakhiri di Gule Tamansari Pojok Beteng atau Jok Teng dengan aroma wangi teh gula batu. Namun, serentak lamunanku buyar saat Sisri berhenti di traffic light Gejayan. Ada seorang anak perempuan kira-kira 5 tahun digandeng ibunya sedangkan yang laki-laki sudah tampak remaja. Sang ibu terlihat sedang membersihkan kaca mobil Panther dengan Kemoceng dan anak perempuannya membawa keranjang kecil yang kulihat ada beberapa ribu rupiah di dalamnya. Sopir Panther membuka kaca mobil dan menyodorkan selembar uang ribuan dibarengi suara cadel yang menggemaskan dari anak kecil itu, “matulnuwun nggih Pak” (terima kasih pak). Tapi tiba-tiba anak laki-lakinya datang dan merebut keranjang berisi uang itu, “gowo rene aku njaluk nggo tuku udud, cangkemku pait” (bawa kesini aku minta buat beli rokok, mulutku pahit). Serentak Sang anak perempuan menangis dan berteriak, “Mas mesakno mak-e, kuwi nggo mangan sesuk, aja mbok jaluk kabeh” (Mas kasihan ibu, itu buat makan besok jangan kau bawa semua). Sang Ibupun ikut bicara, “Le, elingo sesuk kowe arep mangan apa? Apa kowe arep dadi maling? Kuwi duit nggoleke sak awan” (Nak, ingatlah besok kau mau makan apa? Apa kamu mau jadi maling? Uang itu carinya sejak siang hari). Bersamaan dengan larinya anak lelaki itu, lampu sudah berganti menjadi hijau. Sisri mulai berjalan lagi dan aku hanya bisa menengok ke belakang saat Sang Ibu menggendong dan memeluk anak perempuannya lalu membujuk anak itu agar berhenti menangis. Pemandangan yang membunuhku, saat seorang anak perempuan digendong ibunya dibawah cahaya traffic light, tanpa alas, tanpa peneduh.