My Rendezvous (Part 2)

Perjalananku tak pernah berakhir. Seperti saat aku berangkat dari Semarang, kota yang takkan pernah padam menurutku. Tata kota sentuhan Belanda dengan tekstur tanah yang aneh. Pikirku, Semarang memang kota unik. Dengan berbagai budaya yang serba bercampur memunculkan aroma Semarangan yang nyeleneh. Bila Solo dan Jogja punya Kraton sebagai simbol eksistensi budaya Jawa, Semarang tak pernah punya, hanya semacam kota pelabuhan penuh pendatang sepertiku yang amat panas terik dengan hiasan Sam Poo Kong dan Lawang Sewu nan eksotis. Sore itu adalah di awal bulan Mei, jasadku masih berada di hiruk pikuknya Sukun ditemani benda-benda kotak besar berisi manusia yang sangat mengganggu, derum kencangnya hampir merusak telinga dan sisa napasnya yang hitam diprotes di seluruh dunia karena selain mengganggu kesehatan juga ikut andil dalam Global Warming. Tapi, justru benda itulah satu-satunya yang dapat membawaku sampai ke tujuanku, Jogjakarta. Waktu kecil, aku menyebutnya dengan Kota Mainan Baru, karena disanalah aku mendapatkan banyak sekali mainan yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Di kota inilah aku tahu tentang Winning Eleven, saat teman-temanku di Kalioso masih bermain Plinthengan, disana aku tahu tentang Prehistoric yang lucu dan robot Gundam saat teman-temanku di Pojoksari masih memanjat pohon untuk mengambil susoh manuk. Pun aku tahu tentang cinta monyet saat Ninuk, teman SDku kelas 5 meminjamiku Tamagochi kadal, hingga hal tersebut menjadi gosip seantero kelas. Aku pun bersyukur karena saat itu belum ada Kiss, i-Gosip atau Insert dan acara-acara gosip lainnya.

Jogja, meskipun begitu dekat jaraknya dari Semarang, tetap membuatku merasa kejauhan saat dalam kepenatan, penat yang seharusnya akan terbayar lunas saat aku sampai disana. Keinginan untuk cepat sampai sudah tak tertahan bersama dengan keharusan untuk menunggu yang membuat keringat dingin bercucuran. Kotak-kotak besar beroda mulai berjajar di depanku, tapi yang kucari belum juga datang. Memang ada sebuah yang cukup mewah dan sepertinya ada pendinginnya, tapi aku tak berani memasukinya, karena bisa-bisa aku kedinginan. Bukan badanku melainkan kantongku. Ya, kantongku tak cukup tebal untuk menahan dinginnya AC. Lebih baik kepanasan asalkan masih ada yang bisa dirogoh dalam kantong. Tak lama kemudian datanglah sebuah kotak besar yang agak kotor dengan kaca jendela yang sudah kusam, sedangkan kaca di depan pengemudi sudah retak seperti sambaran petir. Dengan agak tergesa aku segera berlari berharap masih ada kursi yang bisa mengenyahkan sekejap kepenatanku. Tapi harapanku tak terwujud. Bus begitu sesak dipenuhi orang-orang yang baru pulang bekerja. Hari sudah sore, takkan ada gunanya aku menunggu bus yang kosong. Pada waktu-waktu seperti ini bus akan selalu penuh hingga menjelang isya nanti. Biarlah aku berdiri bercampur peluh para buruh. Perjalananku pun dimulailah, kubayangkan aku akan menikmati sejuknya jalan di Jambu dan Magelang ditemani tetesan peluh buruh pabrik tekstil Ungaran yang naik di sekitar Bergas. Obrolan mereka tak pernah jauh dari mahalnya harga barang-barang, sulitnya hidup di zaman sekarang dan tentang kesulitan hidup yang lain. Obrolan berlanjut hingga kebanyakan mereka turun di sekitar Secang, sedangkan aroma kain masih terbau lekat di kursi-kursi bis yang berdebu. Kain jins yang akan diekspor ke luar negeri hanya untuk di buat celana, ditempeli merk-merk terkenal yang akhirnya dikembalikan kesini lagi dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga ekspor, negeri pembuat kain tapi tak mampu membuat celana.

Perjalananku ke Jogja selalu kurindukan. Aku rindu segarnya hawa Magelang dan damainya Muntilan yang sekejap saja terlewat tetapi memberiku perasaan lain seolah-olah aku ingin terus mendekap erat dan menikmati Dodol Muntilan dalam kardus kecil, hampir serupa saat-saat aku menjinjing Kerupuk Sanjai dalam kardus besar dari Bukittinggi setahun yang lalu meskipun akhirnya tak pernah kumakan. Tak terasa perjalananku purna sudah. Kuinjakkan kakiku di Jombor, terminal lama. Seperti hal-hal lain, sesuatu yang lama akan cenderung ditinggalkan, sepi. Tapi perkiraanku keliru, yang lama tak selalu ditinggalkan. Keramaian Jogja selalu khas dengan berbagai aktivitas. Kota etnik yang indah dengan bule-bule berlalu-lalang, para cerdik pandai yang belajar di universitas. Tak ayal julukan kota pelajar pun meluncurlah berpadu dengan kota budaya, pusatnya budaya jawa yang adiluhung, budaya yang menjunjung tinggi keberadaban. Tapi, katanya orang-orang jawa sekarang sudah tidak njawani. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Sultan tidak mau jadi Rajanya DIY karena orang-orang sudah tidak njawani lagi. Budaya tetaplah budaya, ia membutuhkan pemelihara yang tak lekang dimakan zaman. Yah, memang zaman suka memakan apa saja yang bisa dimakan tanpa harus dihidangkan diatas piring saji, tanpa bumbu-bumbu penyedap. Lalu bagaimana jika Si Pemelihara budaya habis dimakan zaman? Yang terjadi adalah ikutnya budaya bersama Si Pemelihara, termakan oleh zaman yang rakus dan tak pernah kenyang. Ternyata selama beberapa menit aku menunggu seorang teman di Jombor (bila bertandang ke Jogja aku memang selalu dijemput oleh seorang teman, selain menghemat aku juga bisa bersilaturahim dengan temanku itu), aku telah memikirkan hal-hal yang cukup dalam, sedalam perutku yang tak terisi dan bersuara kruel-kruel pertanda protes yang berlebihan seolah-olah perutku didalam sana sedang berdemo “turunkan BBM, turunkaaan!!!”.

Temanku pun datanglah dengan motor smash bergambar Batosai. Mengingatkan kepada keponakanku 6 tahun yang kemarin membeli stiker tattoo bergambar Kenshi Himura dan ditempelkan di perutnya dengan wajah yang diberi tanda silang pada bagian kirinya menggunakan spidol merah dengan sarung yang melilit supaya terlihat seperti mengenakan kimono. Agaknya keinginan keponakanku tak tercapai karena harapannya ingin seperti Batosai malah terlihat seperti badut pesanan yang mengisi acara anak-anak. Tak menunggu lama aku dan temanku, Sisri, segera berjalan menuju Kutupatran, tempat dia indekos. Sisri adalah temanku SMA dulu. Sebenarnya nama temanku itu adalah Sri Sadono, dia selalu protes saat kupanggil Sisri, seperti nama seorang sinden dari Kalioso. Dia lebih suka dipanggil Dono. Tapi, apalah arti sebuah nama? Lidahku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Perawakannya kecil, mukanya tirus dan terlihat lugu dengan rambut ikal yang disisir seadanya. Semasa SMA dia suka berdandan klimis, rambutnya selalu disisir ke belakang bak aktor Tiongkok Chow Yun Fat dalam God Of Gambler. Sejak saat itu orang lebih mengenalnya sebagai Mafia daripada seorang pelajar SMA bernama Sisri atau Dono, meskipun dia tak pernah punya musuh dari klan mafia lain seperti Al Capone atau Shiro. Kini dia bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Sleman. Tadinya dia bekerja di Pabrik yang ada di Solo, tapi tanpa sebab yang jelas pabrik itu gulung tikar. Sisri beruntung karena dipindahkan ke Jogja, sehingga dia masih bisa mencari nafkah, paling tidak untuk menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang tua. Berjalanlah kami diatas motor smash bergambar Batosai tadi, sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.07 WIB. Aku selalu menikmati perjalanan, bersama jiwaku yang merenung mengingat masa lalu saat usiaku 11 tahun, dimana aku berjalan ke sekolah melewati menara Metrologi Karangkajen yang letaknya di dekat hotel Mentari, sekitar 100 meter ke utara dari Pasar Telo. Saat bulan puasa teman-temanku akan memanjat menara 17 meter itu untuk mengintip bule-bule yang sedang berenang pada pagi hari. Sebenarnya memanjat menara itu amatlah berbahaya, menara yang terbuat dari logam itu pernah membuatku tersengat listrik. Sampai sekarang aku tak ingin tahu itu listrik dari mana, karena dua hari kemudian aku berhasil memanjatnya sambil membawa teropong.

Lalu, aku mulai melihat kemungkinan masa depan, berjalan-jalan dengan anak istriku dengan mengendarai sebuah Innova terbaru, menjelajahi malam di Ring Road, Tamansiswa hingga Malioboro yang berkelip di malam hari dan diakhiri di Gule Tamansari Pojok Beteng atau Jok Teng dengan aroma wangi teh gula batu. Namun, serentak lamunanku buyar saat Sisri berhenti di traffic light Gejayan. Ada seorang anak perempuan kira-kira 5 tahun digandeng ibunya sedangkan yang laki-laki sudah tampak remaja. Sang ibu terlihat sedang membersihkan kaca mobil Panther dengan Kemoceng dan anak perempuannya membawa keranjang kecil yang kulihat ada beberapa ribu rupiah di dalamnya. Sopir Panther membuka kaca mobil dan menyodorkan selembar uang ribuan dibarengi suara cadel yang menggemaskan dari anak kecil itu, “matulnuwun nggih Pak” (terima kasih pak). Tapi tiba-tiba anak laki-lakinya datang dan merebut keranjang berisi uang itu, “gowo rene aku njaluk nggo tuku udud, cangkemku pait” (bawa kesini aku minta buat beli rokok, mulutku pahit). Serentak Sang anak perempuan menangis dan berteriak, “Mas mesakno mak-e, kuwi nggo mangan sesuk, aja mbok jaluk kabeh” (Mas kasihan ibu, itu buat makan besok jangan kau bawa semua). Sang Ibupun ikut bicara, “Le, elingo sesuk kowe arep mangan apa? Apa kowe arep dadi maling? Kuwi duit nggoleke sak awan” (Nak, ingatlah besok kau mau makan apa? Apa kamu mau jadi maling? Uang itu carinya sejak siang hari). Bersamaan dengan larinya anak lelaki itu, lampu sudah berganti menjadi hijau. Sisri mulai berjalan lagi dan aku hanya bisa menengok ke belakang saat Sang Ibu menggendong dan memeluk anak perempuannya lalu membujuk anak itu agar berhenti menangis. Pemandangan yang membunuhku, saat seorang anak perempuan digendong ibunya dibawah cahaya traffic light, tanpa alas, tanpa peneduh.

Iklan

2 Responses to My Rendezvous (Part 2)

  1. fauzansigma berkata:

    perjalanan.. iya, perjalanan selalu menyisakan cerita disetiap sudut2 kecilnya. Skenario yg telah terjadi kadang tidak terduga, apa yang kita lihat bisa jadi tidak selalunya dilihat juga oleh org lain. Nice story, …
    masukan : kalimat majemuk bertingkatnya panjang bgt 😀 😀 😀

  2. fauzansigma berkata:

    keep writing bro!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: