Internet Memperlancar Pekerjaanku Meski di Tengah Perkebunan Sawit

November 26, 2011

Aku adalah seorang karyawan perusahaan yang bergerak di bidang peternakan. Salah satu bidang usaha yang digeluti adalah Parent Stock Breeding Farm. Seperti diketahui, Breeding Farm biasanya terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dengan sistem biosecurity yang ketat. Seperti Farm tempat aku bekerja yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit. Maklum, ayam-ayam itu sangat sensitif terhadap penyakit macam Flu Burung yang tidak juga reda kasusnya.

Waktu itu bulan Juli 2010, ketika aku mulai ditugaskan di Breeding Farm yang terletak di perbatasan Kab. Bogor (Jabar) dengan Kab. Lebak (Banten). Sungguh kaget ketika melihat lokasi Farm yang besar di tengah-tengah kesunyian kebun sawit milik BUMN. Setiap karyawan tidak bisa keluar masuk Farm sembarangan. Akses untuk ke minimarket terdekat pun berkilo-kilo jauhnya dengan jalan berbatu. Bahkan sempat terlintas pertanyaan apakah benar disini ada sinyal ponsel? Huffh, Bak terjebak di lorong gelap.

Pada hari pertama bekerja aku langsung tahu kesulitan yang dialami Farm. Atasanku pusing dengan data-data dan administrasi yang selalu dikirim lewat Flashdisk, padahal jarak ke kantor pusat lebih dari 100 km. Sangat tidak efisien. Sontak aku teringat dengan benda ajaib. Ya, MODEM! Dengan sedikit ragu aku mencoba mencolokkan modem ke PC, dan Wow, luar biasa!!! Aku tak menyangka ada koneksi internet meski hanya GPRS. Satu demi satu data aku kirimkan via email. Masalahpun terpecahkan.

Pada saat itu orang-orang di Farm memang tidak terlalu familiar dengan koneksi internet nirkabel. Hingga setelah kejadian itu aku mengusulkan agar kantor menyediakan modem untuk kepentingan pekerjaan di Farm. Atasanku pun mulai menggunakan modem untuk aktivitas cyber-nya. Aku berusaha menanamkan pentingnya internet kepada karyawan yang sebagian besar orang pedesaan. Pekerjaan di Farm jadi lebih mudah dan efisien. Internet menjadi hiburan yang sangat mengasyikkan di Farm yang sangat jauh dari hiruk pikuk keramaian. Informasi tetap terupdate dan yang pasti wawasan karyawan makin luas.

Setelah setahun lebih, koneksi internet di Farm telah semakin baik. Internet menjadi familiar di tengah-tengah perkebunan sawit. Kini, aku telah dimutasi di Kantor Pusat. Sungguh bahagia berbagi ilmu dengan temen-teman di Farm. Internet benar-benar membuatku XLANGKAH LEBIH MAJU!

Bravo Internet..!!!


My Rendezvous (Part 3)

Februari 26, 2009

Setelah pemandangan di Gejayan aku sudah tak ingat lagi berapa kali aku menyaksikan kejadian serupa. Aku juga sudah tak ingat lagi bagaimana wajah Sisri sekarang, karena ia tak pernah lagi menjemputku di Jombor ataupun Janti. Meskipun baru setahun aku tak bersua, tapi sepertinya aku baru bertemu dengan muka tirus pekerja keras itu kemarin sore. Sisri adalah contoh jiwa masa kini yang perlu ditiru generasi muda. Pantang menyerah dan selalu ceria menghadapi setiap masalah. Tak seperti diriku yang selalu banyak keluh dan kesah, seolah-olah baru saja tertimpa gunung yang menghimpit, sesak lalu terkubur bersamanya. Mungkin aku terlalu meremehkan setiap masalah yang datang. Tapi setidaknya dengan sedikit meremehkan aku bisa bersantai dan tak memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Atau mungkin aku terlalu menganggap berat sebuah masalah, sampai-sampai aku mengira hanya Moldy-lah yang punya teknik gitar seperti itu. Sungguh mengejutkan saat aku melihat pengamen di bus Jogja-Solo yang memiliki teknik bermain gitar persis seperti Moldy. Hidup ini memang penuh kejutan. Masalah berat akan selalu datang, seperti belajar gitar gaya Moldy, namun akan selalu terselesaikan bila kita berniat. Pun hidup ini ringan namun masalah-masalah akan semakin runyam saat kita tak berfikir untuk mempersiapkan. Agaknya setiap rendezvous-ku memang telah dipersiapkan untuk itu.

Seperti sore di awal Februari yang dingin dan mendung. Aku bertemu dengan kawanku semasa SMA, Muara, di sebuah kampus kebanggaan warga kota Solo. Setelah sekian lama tak tahu kabar, kami mencoba luangkan waktu untuk sedikit berkontemplasi tentang masa-masa puber kami. Muara, kawanku itu seperti seorang superstar saat SMA. Cerdas, dengan potongan yang gaul dan disukai kawan-kawan. Kehidupanku bersamanya saat SMA tak bisa dibilang seperti gay karena kami berdua memang masih normal. Disamping kami tidak selalu ketemu, kami juga memiliki aktivitas yang berbeda. Aku adalah seorang aktivis sekolah yang kurang kerjaan sedangkan kawanku, Muara, adalah seseorang dengan kehidupan yang lebih asyik, hidup yang penuh gondrink dan mainan. Sesuatu yang saat itu ingin sekali kulakukan namun aku tak mampu. Hingga kini aku tak pernah melakukannya karena menurut Muara, yang kulakukan sekarang berbeda dengan mainan saat SMA, kini ini disebut dengan tenanan. Kalau gondrink, sumpah aku takkan melakukannya seumur hidupku!!

Ketika itu aku memang sudah berfikir bahwa Muara memang seorang yang penuh bakat, namun aku tak pernah tahu apa yang ia rencanakan di masa depan. Hingga pada suatu saat kutemukan dia dalam aktivitas yang luar biasa baik daripada sekedar mainan dan gondrink. Meskipun ia juga sama sepertiku, tenanan dan ia hanya tinggal menunggu hitungan bulan untuk membuatnya lebih tenanan lagi. Memang benar, Tuhan akan sesuai kehendakNya untuk membalikkan sebuah keadaan, dari A menjadi B dan seterusnya tanpa kita pikirkan sebelumnya.

Aku terlalu banyak kehilangan kontak dengan sahabat-sahabatku semasa SMA. Kurasa Muara adalah salah seorang sahabat yang masih berkontak denganku sejak lulus SMA hingga sekarang. Aku benar-benar merasakan bahwa seseorang akan selalu butuh sahabat untuk menjalani hidup, tak bisa tidak. Dan Muara adalah sahabat yang sampai saat ini sangat berarti dalam menjalani setiap perjalanan. Pertemuanku dengan Muara sore itu dijemput oleh suasana malam kota Hadiningrat yang mendung dan menenangkan. Slamet Riyadi yang metropolis, Loji Wetan yang mengingatkanku pada Ayam Goreng Mbak Yeyen nan lezat dan Kerten yang sangat indah. Kerten memang indah saat aku datang dari Semarang, namun Kerten seperti sangat muram saat aku akan meninggalkannya. Menurutku Solo dan Kerten tak pantas untuk ditinggalkan. Sungguh saat-saat yang paling menyedihkan buatku saat harus meninggalkan Kerten menuju Semarang. Makanya aku selalu memilih untuk lewat Karanggede yang lengang dan segar saat kembali dari rumahku di Sragen ke Semarang karena tak tega. Perjalanan kami berlanjut menuju Mie Ayam Pocong di Makamhaji, tapi sayang kekecewaan merayap saat kami tahu bahwa Mie Ayam Pocong sudah tutup. Akhirnya suara perut kami menuntun ke Sate Ponorogo di Pasar Legi yang cukup ramai. Hidup ini banyak pilihan, seperti saat memilih warung makan.

Tujuan hidup kita belum tentu tercapai sesuai target. Mie Ayam Pocong yang tutup telah membuktikannya. Mungkin kita akan mendatanginya lain kali. Tetapi sesuatu yang mendesak takkan butuh menunggu, ia butuh alternatif jika tujuan utama tak terpenuhi. Di tempat berbeda, namun sama-sama memenuhi hakikat tujuan, itu sama saja menurutku. Walaupun secara taste berbeda, namun tetap tercapai tujuannya. Hidup akan senantiasa begitu, dan kita memang harus mulai berfikir untuk mempersiapkannya. Hmmm, tapi Sate Ponorogo memang cukup lezat, karena setelah makan sate ayam bersama sepiring nasi kami masih memesan lagi sepiring lontong untuk memenuhi perut kami yang berunjuk rasa.

Selepas dari Pasar Legi, Muara mengajakku sebuah kafe yang etnik di Mendungan, Kartasura. Kafe itu terletak di jalan yang menuju ke SMA Mendungan. Perabotannya kental dengan nuansa tradisional dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan pencahayaan yang tak terlalu terang, tapi cukup ayem bila kita mengunjunginya di malam hari yang dingin. Malam itu cuaca di Mendungan memang dingin, meskipun begitu suasana menjadi hangat dengan banyaknya pengunjung kafe yang menyeruput kopi sambil menonton Indonesia Super League antara Persik Kediri vs Sriwijaya FC Palembang. Pertandingan malam itu menarik karena Budi Sudarsono, striker Timnas, yang saat paruh pertama membela Persik kini harus memakai kostum Sriwijaya untuk melawan tim yang telah membesarkan namanya. Ya, Budi dijual ke Palembang karena Persik mengalami krisis keuangan. Kurasa Budi sebagai pemain profesional takkan terpengaruh dengan status barunya itu. Lalu aku sempat berfikir bahwa sesuatu memang akan cepat sekali berubah, beberapa jam lalu mungkin kita sambil berapi-api membela satu hal, tapi sangat mungkin beberapa jam setelahnya kita menjadi berseberangan. Sepertinya Tan Malaka benar bahwa hidup ini selalu berubah, yang ada hanyalah perubahan tentang kepastian atau kepastian tentang perubahan, rumit memang.

Aku segera memesan secangkir capuccino hangat yang cepat-cepat kuhirup. Aku berfikir dengan sepiring French Fries mungkin akan semakin mengasyikkan, dan kami memang segera larut dalam obrolan panjang tentang apa yang sudah kami lakukan selama ini dengan mulut seperti Selepan yang berbunyi ”gruuuuuungngngng!!!”. Namun ada satu hal berbeda dari Muara yang kukenal dulu, ia berfikir lebih dewasa dan bijak. Sesuatu yang hampir mustahil bila kuingat tingkahnya semasa SMA. Yah, mungkin karena dia memang aktivis kampus atau kegemarannya nge-blog jadi membuat fikirannya lebih dewasa. Dalam serunya obrolan kami, aku tersentak karena tiba-tiba ia bertanya tentang sesuatu yang asing bagiku,

”An, menurutmu menikah itu perlu cinta atau tidak?”

Aku pun tepekur untuk beberapa detik. ”Hmmm, mungkin banyak orang berpendapat Ra. Terkadang orang berfikir takkan menikah dengan yang tak dicintainya, tapi sebagian orang jaman sekarang memastikan bahwa cinta akan datang belakangan setelah ijab-kabul terlaksana”, jawabku.

Lalu kamu tipe yang seperti apa Ra?”

Kalau kulihat gelagatmu, kau takkan bisa menahan cinta baru datang belakangan Ra, hahaha. Engkau pastinya butuh cinta dulu, ya kan?”, cecarku penuh penasaran.

Yaaa……, mungkin sih. Cinta itu menyembuhkan An, bahkan orang yang tidak sakit akan sembuh kalau sudah kena cinta”, akunya.

Seumuranku ini sudah tak ada lagi mainan, bisa dibilang tenanan gitu lah, karena kita memang harus memikirkan masa depan dari sekarang. Alaah, kamu itu seperti tak punya cinta saja, padahal kamu itu king of gombal! Diam-diam gombalmu itu membungkus banyak wanita, hahahaha”, lanjutnya.

Gundulmu kuwi Ra! Yang gombal itu aku apa kamu? Weleh-weleh, coba saja renungkan omonganmu itu, mana ada orang tidak sakit bisa sembuh, wong edan atau romantis kamu? Sepertinya sudah tak ada batas lagi antara romantis dan gila ckckckck”, ujarku.

(Bersambung…)