My Rendezvous

April 21, 2008

My Rendezvous

Pertemuanku senantiasa berbekas. Kadang dalam tusukan, kadang hanya noda kecil. Selama hidup takkan pernah terjadi bila kita tak berjalan maju. My rendezvous, ada catatan kecil dalam buku sakuku, dimana orang-orang mengamen dan bernyanyi, dimana orang-orang membaca puisi satu hingga dua kata dengan berapi-api lalu berjalan urut dari depan hingga ke belakang tak terlewat sambil menyodorkan plastik tempat permen. Rinduku tak tertahankan lagi untuk mengangankannya. Sungguh jalan raya Joglosemar adalah cermin kehidupan untuk bagaimana memandang diri dalam sisi lain.

My rendezvous, dimana orang-orang menunduk penuh harap, dimana orang-orang merasa berhak atas kehidupan mereka. Aku pernah tertawa dalam duka orang-orang itu, tapi aku juga pernah menangis meski takkan keluar air mata. My rendezvous, mengantar pada insomnia berminggu-minggu, menjaga keterjagaan dan memaksa untuk tak menutup mata. Sampai pelangi tak berwarna lagi mereka menunggu uluran, bukan tangan, melainkan kepala-kepala yang sudi untuk melihat wajah sendu nan ceria di pinggir trotoar. Tangan ini akan mudah terulur tetapi sering sekali mata ini tak mau melihat. Romantisme dalam diri membelah masa lalu kehidupan, saat my rendezvous pertamakali merekam dalam memori yang mudah mengingat dalam sekejap dan kemudian hilang. Hingga memori pelupa ini penuh dengan wajah-wajah lebam, hitam dan kotor dengan suara melengking nyaring. Hidup ini seperti mentari yang tak dapat bersinar, hanya membuat penuh dunia, tak berguna. Baca entri selengkapnya »

Iklan

kemarin aku bertanya……

April 2, 2008

ganjil2.jpg

kemarin aku bertanya pada orang yang lewat di depan kampusku

Mas lagi nyari apa??atau tepatnya siapa…..

dia bingung mencari dosen pembimbingnya yang ternyata masih ada seminar di paris. benarlah dia takkan menemukanya dalam seminggu ini….

kecewa segera menggelayuti wajahnya yang penuh jerawat, tak terkatakan beratnya saat pendidikan memaksa kita untuk menyelesaikannya dalam usia 23 tahun. padahal pikirku pendidikan bukanlah dibatasi umur, semester atau IPK. aku bilang, pendidikan membentuk moral dan mentalku, bukan mencari angka-angka.

tapi, dunia sudah berubah. sekarang, pendidikan adalah menyelesaikan sesuatu bukan mencarinya. Sampai saat ini aku sedang tak paham, apakah aku sedang menyelesaikan sesuatu atau mencarinya. kalau menyelesaikan niscaya takkan pernah selesai. tapi kalau mencari, aku sedang mencari apa???

kuputuskan saja aku mencari emas, emas memang sangat berharga.

aku mendengar, bahwa kawan2ku juga mencari, tapi mereka mencari batu kali. “berapa harga batu kali??” kata kakakku yang sekarang sedang S2.

amboooiii, betapa tersesatnya mereka, aku tak mau tersesat……

satu hal yang buat aku harus sadar. sekarang aku sudah mencari di tempat dan jalan yang benar apa tidak…

kalau aku kliru mencarinya, matilah aku…..


Kawan2ku, hari ini….

April 1, 2008

Tentunya kawan-kawan ingat saat kita pertama datang di tempat ini (fapet undip), dimana kita mencium harumnya aroma kotoran ayam dan lembutnya tai sapi yang dengan begitu bodohnya kita buat luluran di kedua tangan kita. Sungguh indah saat itu dan mungkin sebagian dari kita takkan mampu untuk melupakannya meski telah berusaha keras

Tak terasa waktu yang begitu sempit memberikan banyak pengalaman dan kenangan yang luar biasa indah, lucu dan terkadang bego’. Indahnya kebersamaan, lucunya tindakan bodoh dan hal-hal aneh yang lain seharusnya membuat kita semakin matang dan siap menghadapi dunia yang lebih berat daripada sekedar praktikum ataupun ujian semesteran. Mulailah kita bertanya pada diri kita, apa yang sudah kita dapat hngga saat ini, apakah kita mendapatkan sesuatu yang berharga dan bisa kita jual setelah ini??? Ataukah kita hanya sekedar mendapat “gombal” dan “sampah” yang kita bingung bagaimana cara menjualnya bahkan tak tahu cara menggunakannya.

Beribu-ribu terima kasih kita ucapkan kepada dosen wali kita yang tercinta, Pak Edy Riyanto, Pak Priyo Sambodho dan Bu Sri Kismiati. Dengan kasih sayang beliau menuntun kita dari awal hingga akhir kuliah nanti untuk tetap tegak saat kapal yang kita tumpangi oleng kesana kemari.

Kawan-kawan, begitu berbahayanya waktu bila kita tak menggunakannya sebaik mungkin, ia bagaikan dua sisi mata pedang yang saat kita lengah dapat menebas leher kita. Semoga yang kita lalui selama ini bukanlah waktu yang terbuang percuma, bukan saat yang tak berbekas apa-apa dan segera hilang dari hati ataupun ingatan kita.

akan sangat membahagiakan apabila kita semua segera memberi kabar kesuksesan saat kita telah meninggalkan tempat ini…………………………