FOLK

April 29, 2008

Wajah-wajah di balik bukit sana terlihat silau. Membawa nampan-nampan berisi beras kebahagiaan, ember berisi lapang hati dan toples-toples kecil berisi senyuman yang boleh diambil siapapun dan kapanpun tanpa harus menunggu dihidangkan saat lebaran. Orang-orang berkata bahwa itu tidaklah mungkin, karena disana tidak pernah ada bukit. Kata orang, disana hanya ada sebuah kuburan kecil yang tak terawat dan nampak menakutkan. Tapi percayalah padaku bahwa disana memang ada seperti itu, yakinlah! Hehehe… mengapa aku mesti berbohong, kalau tidak percaya coba kalian kesana. Tapi jangan pernah ajak aku karena aku sudah pernah melihatnya, dan bagiku itu sudah sangat mengesankan, aku tak mau kesana lagi. Kemarin seorang temanku mencoba mengajakku ke tempat itu, tapi aku tidak mau dan ternyata dia pergi ke tempat itu sendirian. Malam harinya dia berkata padaku bahwa dia tidak melihat apapun disana. Lalu kutanyakan apakah dia menaiki sebuah bukit. Dia menjawab tidak, karena tak ada bukit. Lalu kutanya dia pergi ke arah mana. Dia menuju ke arah barat. Salah, seharusnya dia tidak pergi ke arah barat, timur, selatan, utara, tenggara atau arah manapun, tapi suatu tempat yang sampai sekarang arahnya belum pernah diketahui. Aku pun tak tahu tepatnya dimana. Tempat itu adalah dimana telunjuk tak bisa menunjuk. Kalau kalian menunjuk berarti itu menuju ke arah tertentu, tapi ini tidak! Tidak tertunjuk. Pokoknya tempatnya asyik, temanku bertambah banyak, dan setelah dari sana tubuhku selalu terasa segar, tapi ada satu hal yang tak pernah kupahami, setelah pulang dari sana aku ingin sekali cepat mati, ya…. cepat mati. Ya Rabb aku ingin mati… Namun, itu tidak mungkin.

Saat itu aku yakin bahwa memang ada di balik bukit sana. Aku melihat banyak orang berjalan hilir mudik tersenyum dan anehnya, pakaian mereka sama semua. Lalu kuceritakan pada semua orang bahwa aku pernah melihat itu, tapi orang-orang menganggapku sudah gila dan aku hanya pemimpi. Tapi percayalah bahwa itu benar aku tidak gila dan aku pun tidak bermimpi, itu semua nyata, nyata sekali. Laiknya kenyataan yang telah kuhadapi hingga saat ini.