Negeri Seperti Lumpur Hidup

Mei 15, 2008

Alam selalu mengingatkan tentang berbagai hal, dimana kita tinggal, tempat dimana kaki kita menapak diatas tanah yang lembek berlumpur, apa yang kita butuhkan, hingga apa yang harus kita lakukan. Demi sebuah pencapaian, kita rela untuk menghabiskan rasa, hingga hati-hati kita mati, padam.

Saat-saat yang sangat mengganggu bila seorang ibu ada di hadapan atau di samping kita, ibu paro baya yang menggendong anaknya 2 tahun, lalu anaknya yang kira-kira berumur 4 dan 5 tahun merengek-rengek mengikutinya. Mulailah ibu itu menyanyi khas suara rintihan jalanan yang menyayat. Sepintas amat biasa terjadi tapi menjadi tak biasa saat hati kita sensitif, melihat segala sesuatunya dengan melankolik. Adakalanya hati kita menjadi sekeras batu yang sulit hancur, tetapi ada juga saat-saat dimana kita menjadi bingung mengapa banyak sekali air mata yang menetes dibarengi sesenggukan dalam.

Sekelumit kemiskinan diatas sangat biasa terjadi di negeri ini, rumah-rumah kumuh, pengemis, gelandangan, kelaparan dan masih banyak lagi beragam kemiskinan yang tak mungkin dijelaskan satu persatu.

Semua orang akan bosan mendengar segala permasalahan negeri ini yang tak habis-habis bahkan orang-orang miskin pun akan muak menunggu ketidakpastian.

Banyak pandangan tentang hal ini, tapi menurut saya masalah terletak pada masing-masing individu dan cara individu menghadapi masalah amatlah berbeda. Banyak aspek yang membedakan, mulai dari agama, adat istiadat, kultur, pendidikan hingga lingkungan geografis. Hal itu belum pengaruh dari luar, baik luar daerah yang bertentangan kulturnya, sampai luar negeri yang didominasi oleh barat. Negeri ini memang seperti sepotong makanan enak yang gratis dan dihidangkan di suatu pesta secara prasmanan. Banyak orang yang antre untuk ikut mengambilnya. Selama hidangan belum habis, orang-orang takkan pernah pergi, bahkan yang mengadakan pesta siapa tiada yang pernah tahu, lebih-lebih kapan pesta berakhir, tak seorangpun mengerti.

Agaknya, tanah yang kita pijak ini selalu becek, basah, seperti lumpur hidup, akan selalu menenggelamkan siapa saja yang berdiri diatasnya. Semua pun berpikir, kapan tanah ini akan kering……..

Menurutku takkan pernah kering sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan mungkin lama sekali dan akan selalu membunuh, menenggelamkan penduduknya sendiri.

Negeri ini telah terserang sebuah penyakit yang mematikan, seperti kanker yang menggerogoti, seperti HIV/AIDS yang menurunkan imunitas dan daya tahan tubuh. Bila tubuh manusia terkena HIV/AIDS karena serangan virus, maka negeri ini hancur karena pengelolanya terkena sakit mental. Sakit yang tak pernah disadari. Hal ini membuktikan bahwa sakit yang menyerang dan tak disadari akan sangat berbahaya sehingga menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, meski kematian hanya milikNya.

Bila anak-anak terserang sakit mental, mereka akan segera dikirimkan oleh orangtuanya ke panti social atau semacamnya, dan pastinya perawatan akan dilakukan secara intensif. Tapi siapa yang sadar bila orang-orang yang sakit mental sedang menjadi panutan di seluruh negeri??

Yang ada adalah, pengikutnya sakit mental semua, sakit yang tak pernah disadari, dan menjadi lantaran untuk cepatnya kematian, mungkinkah??????


My Rendezvous

April 21, 2008

My Rendezvous

Pertemuanku senantiasa berbekas. Kadang dalam tusukan, kadang hanya noda kecil. Selama hidup takkan pernah terjadi bila kita tak berjalan maju. My rendezvous, ada catatan kecil dalam buku sakuku, dimana orang-orang mengamen dan bernyanyi, dimana orang-orang membaca puisi satu hingga dua kata dengan berapi-api lalu berjalan urut dari depan hingga ke belakang tak terlewat sambil menyodorkan plastik tempat permen. Rinduku tak tertahankan lagi untuk mengangankannya. Sungguh jalan raya Joglosemar adalah cermin kehidupan untuk bagaimana memandang diri dalam sisi lain.

My rendezvous, dimana orang-orang menunduk penuh harap, dimana orang-orang merasa berhak atas kehidupan mereka. Aku pernah tertawa dalam duka orang-orang itu, tapi aku juga pernah menangis meski takkan keluar air mata. My rendezvous, mengantar pada insomnia berminggu-minggu, menjaga keterjagaan dan memaksa untuk tak menutup mata. Sampai pelangi tak berwarna lagi mereka menunggu uluran, bukan tangan, melainkan kepala-kepala yang sudi untuk melihat wajah sendu nan ceria di pinggir trotoar. Tangan ini akan mudah terulur tetapi sering sekali mata ini tak mau melihat. Romantisme dalam diri membelah masa lalu kehidupan, saat my rendezvous pertamakali merekam dalam memori yang mudah mengingat dalam sekejap dan kemudian hilang. Hingga memori pelupa ini penuh dengan wajah-wajah lebam, hitam dan kotor dengan suara melengking nyaring. Hidup ini seperti mentari yang tak dapat bersinar, hanya membuat penuh dunia, tak berguna. Baca entri selengkapnya »