My Rendezvous

April 21, 2008

My Rendezvous

Pertemuanku senantiasa berbekas. Kadang dalam tusukan, kadang hanya noda kecil. Selama hidup takkan pernah terjadi bila kita tak berjalan maju. My rendezvous, ada catatan kecil dalam buku sakuku, dimana orang-orang mengamen dan bernyanyi, dimana orang-orang membaca puisi satu hingga dua kata dengan berapi-api lalu berjalan urut dari depan hingga ke belakang tak terlewat sambil menyodorkan plastik tempat permen. Rinduku tak tertahankan lagi untuk mengangankannya. Sungguh jalan raya Joglosemar adalah cermin kehidupan untuk bagaimana memandang diri dalam sisi lain.

My rendezvous, dimana orang-orang menunduk penuh harap, dimana orang-orang merasa berhak atas kehidupan mereka. Aku pernah tertawa dalam duka orang-orang itu, tapi aku juga pernah menangis meski takkan keluar air mata. My rendezvous, mengantar pada insomnia berminggu-minggu, menjaga keterjagaan dan memaksa untuk tak menutup mata. Sampai pelangi tak berwarna lagi mereka menunggu uluran, bukan tangan, melainkan kepala-kepala yang sudi untuk melihat wajah sendu nan ceria di pinggir trotoar. Tangan ini akan mudah terulur tetapi sering sekali mata ini tak mau melihat. Romantisme dalam diri membelah masa lalu kehidupan, saat my rendezvous pertamakali merekam dalam memori yang mudah mengingat dalam sekejap dan kemudian hilang. Hingga memori pelupa ini penuh dengan wajah-wajah lebam, hitam dan kotor dengan suara melengking nyaring. Hidup ini seperti mentari yang tak dapat bersinar, hanya membuat penuh dunia, tak berguna. Baca entri selengkapnya »

Iklan